Tradisi Bakar Batu, Merajut Kasih Dalam Perbedaan di Tanah Papua

oleh
Tradisi Bakar Batu, Merajut Kasih Dalam Perbedaan di Tanah Papua.

Jayapura, Borneo24.com  – Tradisi bakar batu atau Barapen adalah sudah turun temurun dilakukan masyarakat Pegunungan Papua. Tradisi ini khususnya di wilayah adat Me Pago dan La Pago wilayah yang saat ini menjadi Provinsi Papua Pegunungan dan Papua Pengunungan Tengah.

Tradisi ini dilakukan dalam berbagai momen, utamanya dijadikan pesta bertanda kerukunan atau jalanan persahabatan. Mulai prosesi damai pasca perang suku atau dalam acara formal syukuran atas pengukuhan ketokohan atau lainnya. Bakar batu kerap dilakukan dengan memasak daging babi atau dalam bahasa masyarakat pegunungan disebut wam.

Berbeda dari kebanyakan, masyarakat di Distrik Welesi, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan Tengah yang mayoritas warganya memeluk Islam memasak daging ayam dalam tradisi Bakar Batu. Tentu ini menyangkut akidah atas perintah agama untuk tidak memakan daging babi.

Umat muslim Welesi (Walesi), tradisi tidak boleh ditinggalkan, melainkan harus tetap dipegang teguh sebagai wujud pelestarian budaya leluhur dimanapun mereka berada. Seperti dilakukan pada perayaan Halal Bihalal Ikatan Keluarga Wilayah Welesi (IKWW), Minggu (21/5/2023).

Ratusan ekor ayam dan umbi dimasak dalam acara rutin yang digelar saat perayaan hari raya. Selain komunitas IKWW turut hadir dalam halal bihalal itu adalah Forum Zakat (FUZ) Pusat dan Provinsi Papua. Puluhan warga berkumpul termasuk organisasi amil zakat yang tergabung dalam FUZ Papua.

Pantauan media ini, acara persiapan dimulai sejak pagi. Warga bergotong royong mempersiapak sarana yang akan digunakan, mulai mengumpulkan Batu kali, membuat lubang ditanah hingga mempersiapkan sayur- sayurannya dan membersihkan ayam yang akan dimasak.

Tradisi bakar batu memang tradisi yang menjunjung tinggi kebersamaan, lantaran butuh banyak tenaga untuk memasak. Mulai persiapan hingga penyajian. Warga di Distrik Welesi, Kabupaten Jayawijaya utamanya yang tergabung dalam IKWW terdiri dari beberapa agama, yakni Islam, Kristen Protestan dan Kristen Katolik.

Nah dalam momen-momen hari raya baik keagamaan Muslim maupun Nasrani, seluruh warga berkumpul bersama. Tidak memandang keyakinan seseorang, namun kekeluargaan sebagai sesama warga Welesi yang dikedepankan.

Ketua panitia Halal Bihalal, Muksin Yalipele mengakui halal bihalal menjadi sarana silaturahmi bagi seluruh warga Walesi, bukan hanya umat muslim. Utamanya yang berada disekitar Kota Jayapura. “Jadi yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Wilayah Walesi ini ada tiga agama, Islam, Katolik dan Kristen Protestas.

Jadi semua ada disini, mereka berkumpul bersama kami untuk menyelenggarakan halal bihalal ini. Halal bihalal adalah momen bagi kami untuk mempererat tali persaudaraan. Apapun agamanya, kami adalah anak Walesi,”kata Muksin.

“Hari ini kami juga kedatangan tamu dari teman-teman Forum Zakat (FUZ) di Papua, kami sangat berterimakasih atas kehadiran serta bantuannya,”ucapnya. Ketua Forum Zakat Wilayah Papua Mohammad Huri mengatakan pihakknya bersama Forum Zakat (FUZ) Pusat dari Jakarta turut serta merayakan halal bi halal bersama masyarakat Muslim Welesi di Angkasa Pura.

Pihakknya juga mengapresiasi sambutan hangat yang diberikan dengan tradisi Barapen. “Kami sangat berharap dengan semangat kebersamaan yang dicontohkan saudara kami muslim Wamena dalam tradisi Barapen ini, semoga Forum Zakat Papua bisa menyatu dengan masyarakat dan mampu memberikan manfaat yang lebih luas untuk masyarakat Papua,” ucapnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.