Kasus Jual Beli Lahan Hantarkan 4 Warga Kotim Ke Jeruji Besi di Jakarta

oleh

Kotawaringun Timur, Borneo24.com – Empat orang warga Desa Tehang, Kecamatan Parenggean, Kabupaten kotawaringin timur tidak menyangka bakal meringkuk di sel tahanan Polres Jakarta Utara.

Keempat warga masing-masing bernama Kariya, Ruditman, Misba dan Muses tersebut diduga kuat dijebak oleh pihak perusahaan perkebunan kelapa sawit, terkait pembayaran ganti rugi lahan.

Ketua LSM Balanga Kalteng, selaku penerima kuasa atas keempat orang tersangka tersebut Gahara SH mengatakan Bagi masyarakat yang melakukan klaim lahan dengan perkebunan kelapa sawit harus hati-hati ketika diajak ke Jakarta oleh pihak perusahaan untuk dilakukan transaksi pembayaran, karena bukan penyelesaianditerima, namun, jebakan hukum.

Menurut Gahara awal mula terjeratnya keempat warga yang disangka dengan kasus percobaan pemerasan tersebut berawal dari sengketa lahan seluas 281 hektare antara masyarakat Desa Tehang dengan PT Katingan Indah Utama (KIU) Makin Group, sejak beberapa tahun terakhir.

Setelah melewati negosiasi yang panjang, pada 17 Juli 2019 lalu, keempat tersangka yang dipercaya warga untuk mengurus lahan tersebut diajak pihak perusahaan untuk ke Jakarta, dengan alasan untuk pembayaran ganti rugi lahan, dengan membawa seluruh bukti SKT asli keJakarta.

“Mereka berempat itu diundang ke Jakarta dan difasilitasi oleh perusahaan untuk tiket, hotel dan akomodasinya. Namun setelah pihakperusahaan berbicara jumlah uang untuk pembayaran di depan, mereka langsung ditangkap polisi dengan tuduhan percobaan pemerasan, sangat ironis sekali,” tegas Gahara.

Lebih lanjut Gahara Mengatakan , saat negosiasi berlangsung di sebuah hotel di Jakarta, salah satu warga sempat merekam isi pembicaraan mereka dengan pihak perusahaan sangat jelas, pihak perusahaan memaksa keempatnya untuk menerima uang sebesar ratusan juga rupiah dengan dalil sebagai uang muka pembayaran.

Keempat warga tersebut terus menolak uang tersebut dan meminta pihak perusahaan untuk membuatkan berita acara pembayaran sebagai pertanggungjawaban mereka terhadap ratusan warga Tehang. Namun, dalam isi rekaman yang diterima media ini, pihak perusahaan ngotot untuk memberikan uang tersebut dengan asalan kwitansi atau berita acaranya akan dibuat belakangan.

Lantaran tidak ada berita acaranya, mereka tetap menolak uang itu, hingga beberapa anggota kepolisian datang dan mengamankan keempatnya.”Alhamdulillah, beberapa menit sebelum polisi datang, salah satu dari mereka sempat mengirim rekaman isi pembicaraan mereka ke istri dan keluarnya melalui pesan WhatsApp, jadi itu sebagai bukti kita untuk memperjuangkan kasus ini demi mendapat keadilan,” ungkap Gahara.

Lanjutnya, saat ini keempat warga sudah ditahan di Polres Jakarta Utara, mereka disangka dengan Pasal Pasal 368 KUHP Jo 53 KUHP .“Jelas kita akan melawan, agar keadilan benar-benar ditegakkan.

Untuk langkah selanjutnya, kita bersama ratusan masyarakat Tehang akan demo besar-besaran ke PT KIU. Kita juga sedang mempersiapkan laporan kePresiden RI, Kapolri, Komnas Ham, DPR RI, Gubernur Kalteng,” tegas Gahara.