Khusus Omicron, Menkes Segera Sebar Tes PCR Baru di Seluruh Pintu Masuk RI

oleh
Menkes Budi Gunadi Sadikin akui pihaknya dalam waktu dekat sebar tes PCR baru

Jakarta, Borneo24.com – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengaku pihaknya dalam waktu dekat bakal mendistribusikan teknologi tes Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) untuk pemeriksaan S Gene Target Failure (SGTF) yang dapat mendeteksi varian Covid-19 B.1.1.529 atau varian Omicron di Indonesia.

Budi sebelumnya menjelaskan, beda tes PCR biasa dengan tes PCR SGTF terletak pada kit reagen khusus yang dibutuhkan untuk SGTF. Lantaran teknik SGTF adalah fokus pada area genome varian Omicron yang kehilangan atau delesi beberapa huruf genetik di gen S (spike).

Sementara umumnya pemeriksaan hanya kepada gen N dan gen ORF.

“Kita akan menyebarkan teknologi baru untuk tes PCR yang bisa melihat markernya Omicron. Kita sudah sebarkan di seluruh pintu-pintu masuk luar negeri yang utama,” kata Budi dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTobe Sekretariat Presiden, Senin (27/12).

Budi menjelaskan, alasan pihaknya bakal menggunakan metode pemeriksaan SGTF lantaran pemeriksaan Whole Genome Sequence (WGS) membutuhkan masa tunggu pemeriksaan yang relatif lebih lama.

Saat ini, Indonesia masih belum memproduksi kit reagen khusus untuk SGTF. Mayoritas negara mengimpor dari Korea Selatan.

Selanjutnya, Budi juga mengingatkan bahwa hasil pemeriksaan SGTF masih berstatus probable belum terkonfirmasi positif, sehingga harus divalidasi kembali menggunakan WGS.

Namun demikian, setidaknya kasus probable Omicron tersebut telah dipantau dan dikarantina.

“Sehingga kita bisa lebih cepat mengidentifikasi Omicron menggunakan tes PCR yang hanya 4-6 jam, dibandingkan dengan tes genome sequence yang 3-5 hari,” ujar mantan wakil menteri BUMN itu.

Jumlah kasus varian Omicron di Indonesia terus mengalami penambahan jelang tahun baru 2022. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per 26 Desember mengkonfirmasi varian yang pertama kali diumumkan teridentifikasi di Indonesia pada 15 Desember lalu itu kini telah berjumlah 46 kasus.

Kendati demikian, Kemenkes memastikan puluhan kasus itu merupakan imported case alias penularan kasus dari para pelaku perjalanan internasional, sehingga mereka mengklaim varian Omicron belum teridentifikasi sebagai penularan lokal di masyarakat. (***)

No More Posts Available.

No more pages to load.