Hutan dibabat Rakyat Melarat, Adat lenyap, Masa depan gelap

oleh
oleh

Investigasi Reporter Borneo24.com atas nama Yulius Yartono – Suara Rakyat ditengah krisisnya lahan. Mereka hanyalah rakyat kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa. Perusahaan PT. Ketapang Subur Lestari (KSL) menggarap ditengah desa, akibatnya RT. 02 dan RT. 03 terpisah kurang lebih 1,5 Kilometer (Km). 

Dari hasil lapangan, saya melakukan investigasi ke PT. KSL yang menggarap eks. perkebunan karet PT. Sendabi Indah Lestari (SIL) dengan cara “Land Clearing”, yaitu menutup sungai dan anak sungai yang menyebabkan pencemaran.

Kebiasaan adat dan budaya masyarakat setempat biasanya masih dimanja oleh alam. Misalkan untuk kebutuhan air bersih, warga biasanya langsung mengambil air dari sungai karena airnya alami dan jernih. Namun, sekarang di desa Janah Jari – Juwung Marigai mulai mengeluh kesulitan mendapatkan air bersih. Itu merupakan dampak dari adanya aktivitas perusahaan kelapa sawit PT. KSL.

Saya melanjutkan investigasi dengan mencari data tentang perizinan PT. KSL, dengan mendatangi Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Barito Timur. Saat diwawancara soal Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan izin lingkungan, pihak DLH menyatakan Perusahaan PT. KSL belum mengantongi dokumen perizinan terkait AMDAL dan izin lingkungan.

Fakta lain hasil investigasi, di DPRD Kabupaten Barito Timur sudah dua kali melakukan Reksadana Pasar Uang (RDPU). DPRD memanggil semua pihak terkait, seperti DLH, Badan Pertahanan Nasional, Asisten Administrasi daerah, pihak PT. KSL dan Perwakilan Masyarakat. Hasilnya perusahaan mengakui belum mengantongi izin AMDAL dan izin lingkungan (masih dalam proses di DLH).

Setelah adanya keluhan dan laporan masyarakat pada Desember 2018, bupati Barito Timur Ampera AY Mebas akhirnya turun tangan dan langsung meninjau lapangan. Bupati Barito Timur terkejut melihat sungai-sungai di desa Janah Jari tertutup akibat Land Cliring PT. KSL. Menyikapi hal tersebut bupati secara lisan memerintahkan kepada perusahaan PT. KSL untuk segera melakukan normalisasi sungai tanpa harus merusak sungai.

Namun sampai saat ini perusahaan belum melaksanakan normalisasi sungai, malah sudah kembali beraktivitas dan menjadi tanda tanya besar bagi masyarakat.

PT. KSL kembali beraktivitas, apakah perusahaan sudah mengantungi izin lingkungan dan AMDAL dari DLH ? Siapa orang-orang yang dilibatkan dalam tim kajian AMDAL? Adakah para tokoh adat yang dilibatkan ?

Saya (Yartono) putra daerah Bartim asli orang Janah Jari – Juwung Marigai, merasa prihatin. Sebagai bentuk kepedulian atas rusaknya lingkungan dan ekosistem, saya berharap kepada aparat penegak hukum, baik kepolisian maupun KPK agar mengusut dan menindak tegas perusahaan yang melakukan pelanggaran Undang-Undang. (RP/01)