Budidaya Madu Kelulut, Langka, dan Bernilai Jutaan Rupiah

oleh

KAPUAS – Budidaya Madu Kelulut, mungkin agak jarang terdengar, namun siapa sangka membudidayakan binatang kecil mirip seperti lalat tersebut dapat menghasilkan omset puluhan juta, dikarenakan harganya yang cukup mahal dipasaran dan banyaknya peminat madu kelulut.

Melihat potensi tersebut, membuat Kepala Desa Sei Asam Masrawan SH, atau akrab disapa Iwan tertarik dan mencoba membudidayakan madu kelulut, setelah sebelumnya dirinya ditawari oleh teman sekampungnya yang tinggal di Barabai, Kalimantan Selatan.

“Awalnya, saya membudidayakan madu kelulut ini dari teman saya satu desa yang tinggal di Barabai, Saya dikenalkan dengan Madu Kelulut. Mengingat di Kalteng khususnya Kapuas sangat susah mencari dan mendapatkan binatang ini akibat dari bencana kebakaran lahan dan hutan, sedangkan di Kalsel madu kelulut ini sangat berlimpah sehingga saya tertarik untuk mencoba membudidayakannya dan alhamdulillah saya berhasil merangsang masyarakat untuk ikut serta membudidayakan madu kelulut. Saat ini sudah ada sekitar 25 sarang ternak madu kelulut yang dibudidayakan” Ucap Kepala Desa Sei Asam, Kecamatan Kapuas Hilir Masrawan SH, Sabtu(2/3/2019).

Sistem budidaya madu kelulut sendiri tidak terlalu sulit, khususnya untuk budidaya di daerah Kalteng seperti di Kapuas, yang masih memiliki sumber daya alam yaitu hutan, yang lebih melimpah dari wilayah Kalsel. Sehingga peluang budidaya di daerah Kalteng masih terbuka lebar.

Perawatan madu kelulut, cukup dengan menaruh sarangnya yang sudah dibuat, diletakan di atas potongan kayu, dan disimpan di bawah pohon. Hal terpenting adalah menyediakan tanaman bunga di sekitar sarang, mengingat bunga sebagai sumber makanan binatang kelulut untuk memproduksi madu kelulutnya.

Produksi madu kelulut dimulai dari awal budidaya hingga masa panen, hanya memakan waktu satu bulan. Tetapi hal tersebut juga tergantung dengan persediaan makanan sehingga perlu tanam-menanam jenis bunga apa saja disekitar sarangnya dan jarak persarang sendiri harus 6 – 5 meter, untuk memudahkan binatang ini mencari makan. Produksi madu kelulut sendiri, paling banyak terjadi di musim kemarau, yaitu mencapai satu liter per sarang dengan income 3 sampai 4 Juta perbulan.

Madu kelulut memiliki khasiat yang beraneka ragam untuk kesehatan dan juga untuk produk kecantikan. “Untuk khasiat madu sendiri, memang sudah teruji secara klinis dengan kandungan propolis yang tiga kali lipat dari madu biasa dan juga antioksidan yang dapat digunakan untuk mencegah kanker, serta bagus digunakan untuk terapi pengobatan penyakit lambung seperti maag, dan asma juga” tutur Masrawan.

Menurut Masrawan, binatang jenis ini banyak dijumpai di wilayah Kalteng, namun belum banyak diketahui manfaatnya oleh masyarakat, terlebih potensi dari budidayanya yang menghasilkan omset jutaan. (RP/02)