Wajib Swab/PCR Masuk Kalteng Memberatkan Ekspedisi Sembako, Supir Lintas Pulau : Mau Ngerampok Aja, Takut Penjara

oleh
Proses bongkar muat di salah satu ekspedisi yang ada di Jalan Rambutan, Kecamatan Arsel, Kotawaringin Barat, Kamis (29/4/2021).

Kotawaringin Barat, Borneo24.com – Kebijakan wajib uji kesehatan Swab/PCR sebagai syarat masuk ke Kalimantan Tengah dianggap memberatkan masyarakat. Tak terkecuali bagi para supir sembako lintas pulau.

Pasalnya biaya uji kesehatan yang dikeluarkan oleh para supir tidak sebanding dengan upah yang mereka dapatkan dalam sekali perjalanan ketika masuk Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah dan sebaliknya.

Saat ini di Kotawaringin Barat harga rapid antigen berkisar antara Rp 250 rb sampai dengan Rp 270 rb. Sementara untuk Swab/PCR bisa mencapai Rp 900 rb.

“Gajinya supir lho cuma enam ratus, belum lagi dipotong, Mau makan apa. Kadang kita tuh mau merampok aja, takut penjara,” kata Supir Lintas Pulau, Firman, Kamis (29/4/2021).

Mereka mengancam akan melakukan mogok kerja, jika tidak ada kebijakan khusus bagi para supir sembako antar pulau.

“Udah mogok semua pulang aja, wong barang gak bosok kok. Tapi kalo sayur mati kita. Ya artinya warga masyarakat ini menanti belas kasih dari pemerintah lah, kebijaksanaannya itu lho mulai dari anak-anak yang sekolah, kuliah, pondok pesantren. Kalo diartikan ke mudik kita gak bisa, lha kita emang gak mudik kok” jelasnya.

Pihaknya berharap pemerintah dapat memberikan subsidi bagi mereka dan para pelajar yang ingin kembali ke kampung halaman.

“Dibantu sedikit aja sudah sangat terima kasih, sedangkan warga masyarakat selalu manut (ikut) aturan. Kita terkendala dengan biaya,” terangnya.

Pihaknya berharap kebijakan wajib PCR dapat diganti dengan rapid antigen agar pihaknya tidak merogoh kocek terlalu dalam guna mendukung kelancaran sembako di Kalteng. (***)

No More Posts Available.

No more pages to load.