Pengangguran di Pulpis Meningkat Tajam, Kenapa?

oleh

PULANG PISAU – Dampak dari tidak stabilnya harga-harga perkebunan, baik Kelapa Sawit, Karet dan lainnya berimbas kepada masyarakat Kabupaten Pulang Pisau yang berjuluk Bumi Handep Hapakat untuk menambah kebutuhan penghasilan rumah tangga maupun kebutuhan pribadi lainnya. Pasalnya dampak-dampak dari itu jumlah pengangguran di Kabupaten Pulang Pisau meningkat tajam.

Meningkatnya jumlah pengangguran ini, dibenarkan langsung oleh Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Pulang Pisau Drs. Ceptedy, Kamis (28/2/2019) bahwa jumlah pengangguran di Kabupaten Pulang Pisau meningkat 2,15 persen untuk tahun 2018, di bandingkan pada tahun 2017 lalu pada posisi 1,62 persen.

Peningkatan tersebut menurutnya juga dikarenakan gejolak harga komoditas dan faktor produksi yang dapat mempengaruhi lapangan pekerjaan masyarakat. ” Betul jumlah pengangguran kita meningkat, penyebabnya harga karet yang tidak stabil, dan petani-petani kita cukup banyak mengandalkan pekerja itu. Dan karena faktor itu, banyak petani kita yang berhenti bekerja disitu, ” beber Ceptedy menjelaskan kepada Reporter Borneo24.

Dikatakan Ceptedy selain itu juga karena pengaruh iklim, ada yang terpaksa harus kembali menyedot emas ke arah atas baik ke atas bukit rawi atau ke gunung mas bagi masyarakat yang berada di Kecamatan Bukit Rawi. Karena pengaruh-pengaruh itu lah penduduk di pulang pisau terpaksa harus mencari pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Lanjut Ceptedy, sama hal seperti masyarakat di Kecamatan Sebangau Kuala, ketika harga sawit mulai menyusut, maka jumlah tenaga kerja pun menjadi berkurang. ” Karena jumlah pekerja di kurangi ini lah, masyarakat kita menjadi menganggur, dan cukup banyak buruh harian sawit yang putus kerja. Dan bahkan mereka harus mencari kerja keluar daerah,” beber Ceptedy didampingi Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Lusia Natalia Dewi Darajati, SP, ME menjelaskan.

Cukup banyaknya pengurangan tenaga kerja di perusahaan sawit, sambung Ceptedy, juga berdampak pada jumlah pengangguran penduduk setempat. ” Meningkatnya jumlah pengangguran ini, juga dampak dari harga-harga perkebunan yang mulai melesu baik itu sawit maupun karet. Dan ini juga dampak dari pengaruh Global,” tandasnya. (RP/01)