Pulang Pisau Ranking 7, “Harga Bahan Bangunan” Termahal Se-Kalteng, Kenapa?

oleh

PULANG PISAU – Meski letak Kabupaten Pulang Pisau sangat strategis, ternyata harga-harga bahan bangunan di Kabupaten Pulang Pisau masih terbilang mahal, dan belum ada dampak yang sangat positif untuk mendongkrak harga dari kota-kota tetangganya, yaitu Kota Banjarmasin, Kabupaten Kapuas maupun Kota Palangka Raya (1/3/2019).

Kabupaten Pulang Pisau sendiri merupakan Kabupaten pemekaran yang baru berumur 16 tahun. Sejak dilahirkan pada 2 Juli 2002 lalu, pertumbuhan perekonomian Kabupaten Pulang Pisau terbilang sedikit meningkat, dan mampu menekan angka kemiskinan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2018 jumlah kemiskinan di level 4,51 persen dan sedikit menurun dibandingkan dengan tahun 2017 lalu di level 5,19 persen.

Namun penurunan angka kemiskinan itu, tidak ditunjang dengan turunnya jumlah pengangguran di Kabupaten Pulang Pisau, dan tercatat angka pengangguran di Kabupaten Pulang Pisau meningkat pada level 2,15 persen ditahun 2018, dimana pada tahun 2017 lalu angka pengangguran di Kabupaten Pulang Pisau sedikit menurun pada level 1,62 persen.

Kabupaten Pulang Pisau juga termasuk daerah yang harga-harga bangunannya cukup mahal. Terbukti, hasil data BPS di tahun 2018 menunjukan Kabupaten Pulang Pisau mendapat ranking ke 7 se Kalimantan Tengah pada Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) di angka 101, 64, dan jauh lebih mahal dari Kabupaten Katingan yang IKK-nya 95, 89 pada ranking ke 2 terendah setelah Kabupaten Kapuas dengan IKK pada angka 90,46 pada ranking 1 (satu).

Kepala BPS Kabupaten Pulang Pisau Drs. Ceptedy didampingi Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Lusia Natalia Dewi Darajati,  mengatakan angka kemahalan tersebut menurutnya dapat dilihat dari angka IKK Kabupaten Murung Raya yang mencapai angka di 122,34, dan posisi Kabupaten Pulang Pisau berada di tengah-tengah IKK Kabupaten/Kota di Kalteng.

“Harga di Kabupaten Pulang Pisau bisa dibilang mahal, tapi tidak lebih mahal dari Kabupaten Murung Raya. Dan posisi daerah kita ini berada di tengah-tengah, tetapi kenapa harga Kabupaten Kapuas itu bisa lebih murah, dan Kota Palangka Raya juga lebih murah, jadi permasalahannya ada pada insfrastruktur dan transportasi,” bebernya menjelaskan kepada Reporter Borneo24.

IKK Kabupaten Pulang Pisau lebih mahal setelah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) dengan IKK 100,04. Hal ini, kata Lusia, bisa disebabkan karena Kabupaten Pulang Pisau belum memiliki pintu perdagangan, dan Kabupaten Pulang Pisau hanya mensuplai barang dari daerah-daerah luar, sehingga harga barang di Kabupaten ini menjadi relatif lebih mahal.

“Seperti halnya barang-barang seperti semen itu sebenarnya ada kalau kita beli semen disini, tetapi kita mengambil dari Palangka Raya, sementara dari Palangka Raya mereka mengambil dari Banjarmasin. Sementara Banjarmasin mereka tidak mampir ke kapuas dan mereka tembak langsung ke Palangka Raya, hal ini tergantung distributornya,”  kata Ceptedy, Kepala BPS PULPIS.

Sampai sekarang ini PULPIS masih belum memiliki Pelabuhan Bongkar Muat, seperti halnya di daerah lain yang sudah memiliki Pelabuhan Bongkar Muat sendiri untuk akses barang-barang tersebut. “Sebenarnya kita memiliki banyak pelabuhan, tetapi kenapa harga-harga bahan bangunan kita tetap mahal, nah disitu yang perlu kita pikirkan untuk lebih mendongkrak lagi fungsi pelabuhan kita ini” tandasnya (RP/02).