Indonesia Berada di Urutan Ketiga Kasus Penyakit Kusta Terbanyak di Dunia

oleh
Indonesia Menempati Urutan Ketiga Kasus Kusta Terbanyak di Dunia.

Jakarta, Borneo24.com Kusta masih menjadi salah satu penyakit yang banyak diderita masyarakat Indonesia. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia menempati peringkat ketiga kasus kusta terbanyak hingga 2020 lalu.

Penderita kusta terbanyak pada 2020 ditempati India dengan total 65.147 kasus. Urutan kedua ditempati Brasil dengan penderita kusta sebanyak 17.979 orang. Sementara Indonesia menempati urutan ketiga dengan total penderita kusta sebanyak 11.173 orang.

Kusta atau lepra adalah penyakit infeksi kronis yang menyerang jaringan kulit, saraf tepi, hingga saluran pernapasan. Penyakit ini umumnya akan menimbulkan lesi pada kulit hingga kerusakan saraf.

Pemberantasan penyakit kusta memang masih terus menjadi PR bagi Indonesia. Kementerian Kesehatan RI mencatat, berdasarkan data per 24 Januari 2022, tercatat sebanyak 13.487 kasus kusta aktif, dengan penemuan baru sebanyak 7.146 kasus.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan, masih ada enam provinsi di Indonesia yang masih belum bisa mengeliminasi kusta. Keenam provinsi itu diantaranya Papua Barat, Papua, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Barat.

Menurut Dante, prevalensi kusta di enam provinsi tersebut masih lebih dari 1 per 10 ribu penduduk. Artinya, dari setiap 10 ribu penduduk di daerah tersebut, ada satu warganya yang menderita kusta.

“Deteksi sedini mungkin adalah hal penting agar perlu segera diobati. Akibat kusta bisa timbul permasalahan ekonomi, stigmatisasi pada penderita kusta beserta keluarganya,” kata Dante sebagaimana dilansir dari situs resmi Kemenkes.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan kusta adalah penyakit yang bisa disembuhkan jika pengobatan yang tepat diberikan sesegera mungkin.

“Kusta bisa disembuhkan. Dengan deteksi dan pengobatan dini, kita bisa menghindari kecacatan pada pasien,” kata Nadia.

Meski demikian, stigma negatif kerap diberikan terhadap penderita kusta. Untuk itu, pihaknya terus berupaya menghapus stigma negatif tersebut melalui sejumlah kegiatan, seperti edukasi hingga memberikan berbagai informasi untuk masyarakat.

“Seluruh elemen dari sektor swasta, organisasi profesi, organisasi masyarakat, mitra pembangunan, dan media telah berperan aktif dalam memberikan informasi sehingga masyarakat dapat memperoleh informasi yang akurat dan benar tentang kusta,” katanya. (***)

No More Posts Available.

No more pages to load.