Menjadi Terasa Sulit Untuk Fokus, Gula Juga Dapat Mempengaruhi Otak Bukan Hanya Darah Saja

oleh
Gula Juga Dapat Mempengaruhi Kinerja Otak Manusia

Jakarta, Borneo24.com Makanan manis dan gula berlebihan dikenal tidak baik bagi kesehatan tubuh. Gula memang berfungsi untuk menambahkan energi pada tubuh, sehingga membuat kita semakin Agar tak kelebihan gula, kamu juga perlu tahu mengenai batas konsumsi gula perharinya.

Menurut World Health Organization (WHO), standar konsumsi gula perhari adalah 25 gram atau sekitar 6 sdt. Sayangnya, standar ini enggak diterapkan oleh masyarakat kita. Lihat saja data dari Asosiasi Gula Indonesia pada 2015, konsumsi gula perkapita masyarakat Indonesia mencapai 31 gram perhari.

Namun, diketahui bahwa gula ternyata juga dapat memengaruhi otak manusia. Berikut ini penjelasannya.

Hubungan Gula dan Otak

Para ilmuwan dari Jerman menemukan bahwa otak secara aktif mengambil kandungan gula dari aliran darah yang dialirkan ke otak.

Selain itu, studi menemukan bahwa neuron kita yang bertanggung jawab dalam menyerap gula tersebut. Adapun sel bernama astrosit mampu mengambil kandungan gula untuk mengatur nafsu makan kita.

Astrosit ini adalah bagian dari sel neuron yang jumlahnya lima kali lebih banyak daripada neuron. Tugas astrosit yaitu membawa nutrisi ke jaringan saraf dan berperan dalam perbaikan otak dan sumsum tulang belakang.

Inilah mengapa orang dengan kelebihan berat badan akan merasa lapar terus menerus dan membutuhkan banyak gula.

Sebab, astrosit yang mengangkut gula ke otak juga mengatur seberapa banyak gula yang harus diserap oleh otak.

Menimbulkan Plak di Pembuluh Darah

Enggak salah sih otak memerlukan si manis ini, sebab organ tersebut memang membutuhkan gula sebagai bahan bakarnya. Jangan salah, walaupun ukuran kecil (1,3 kilogram), tapi otak menyerap 20-23 persen metabolisme glukosa tubuh. Namun, kalebihan gula ini pertama-tama akan menimbulkan masalah bagi insulin tubuh.

Insulin sendiri fungsinya mengatur keseimbangan glukosa bagi tubuh. Bila insulin terganggu, otomatis tubuh enggak bisa menggunakan glukosa sebagai bahan bakar. Alternatifnya, tubuh akan menggunakan lemak atau protein untuk proses metabolisme.

Namun, proses metabolisme menggunakan kedua zat tersebut enggak baik bagi tubuh. Sebab hasil metabolismenya berupa keton bodies  (senyawa keton dalam tubuh) yang dihasilkan oleh aksidasi lemak yang enggak sempurna.

Sementara ini, bila menggunakan protein, hasil akhirnya adalah berbagai macam asam dalam tubuh, seperti sulfat, nitrat, dan fosfat. Nah, keton dan zat asam inilah yang membuat tubuh terasa tidak segar karena metabolisme tidak bersih.

Kata ahli, proses metabolisme menggunakan protein dan lemak ini berbahaya bagi otak. Lama-kelamaan  bisa menimbulkan plak-plak di pembuluh darah. Alhasil, aliran darah ke otak pun jagi enggak lancar. Parahnya lagi, bisa menyebabkan penyempitan pada pembuluh darah. Kalau berlangsung lama akibatnya lebih parah lagi, bisa membuat pembuluh darah di otak rusak.

Bahaya Kelebihan Gula

Asupan gula yang berlebihan juga menyebabkan otak kita sulit untuk menerima informasi dan memikirkannya.  Ketika seseorang mengonsumsi terlalu banyak gula, maka kadar gula darah naik tiba-tiba dan kemudian turun.

Ketika gula darah turun inilah otak menjadi terasa sulit fokus.Menurut ahli, pengendalian kadar gula darah yang buruk berisiko menganggu kerja otak.

Ketika tubuh terlalu banyak mengonsumsi gula, kita jadi merasa membutuhkan gula lebih banyak. Ini disebabkan oleh beberapa hal, yaitu lidah yang terbiasa dengan rasa manis dan pengaruh gula yang memengaruhi hormon di tubuh.

Karena terbiasa merasakan manis dari makanan dan minuman mengandung gula, lidah kita menjadi tidak peka terhadap rasa manis. Artinya kita butuh lebih banyak rasa manis dari tidak mudah mendeteksi rasa manis dengan baik. (***)

No More Posts Available.

No more pages to load.