Rempah Sintok Kalimantan Yang Sempat Mendunia

oleh
Ilustrasi.

Kalimantan, Borneo24.com Rempah merupakan alat pemersatu daerah-daerah di Nusantara. Melalui jalur perdagangan rempah, interaksi yang berdampak pada bidang ekonomi, sosial, maupun Nusantara.

Rempah dari Indonesia selama ini mungkin lebih dikenal sebagai bumbu masak, seperti pala, cengkih, dan lada.

Namun, rempah tak hanya berkaitan dengan makanan, tapi juga produk perawatan dan wewangian, seperti minyak esensial dari sintok.

Sintok merupakan nama dagang dari spesies Cinnamomum sintok Bl yang umum dikenal dalam perdagangan pada abad ke-19.

Tapi, rempah asal Kalimantan ini sering disebut sebagai kayu manis. Bagian dari sintok yang dimanfaatkan untuk minyak esensial adalah kulit kayunya.

Potongan kulit kayu ini panjang dan tebal, berwarna cokelat, berbentuk hampir rata, rapuh, berkerut di bagian luar, dan memiliki lapisan kulit terluar berwarna abu-abu.

Minyak esensial dari sintok sempat sangat digemari di banyak negara, termasuk India, China, Jazirah Arab, dan Persia.

Peneliti Pusat Riset Kewilayahan BRIN, Dana Listiana, dalam webinar International Forum on Spice Route (IFSR), mengungkap bahwa sintok disebut sebagai obat-obatan Melayu atau obat-obatan Bumiputra (inlander medicijn).

Dalam buku obat-obatan di Hindia Belanda, sintok dinyatakan bermanfaat untuk pengobatan diare spasmodik dan kronis, yang berefek merelaksasi otot usus. Dana berkata, “Sintok kaya akan kandungan getah dan minyak esensial.”

Studi rempah di Kalimantan sebenarnya lebih beragam, mengingat wilayah ini lebih dulu dikenal dunia. Kalimantan telah menjalin perdagangan dengan India dan China sejak awal masehi karena produk wewangian. 

“Kalimantan bukan sekadar tempat singgah karena menawarkan hasil alam yang bernilai ekonomis, seperti kamper dan emas. Komoditi itulah yang kemudian memunculkan penamaan karpuradvipa (Pulau Kamper) dan Suvarnabhumi (Tanah Emas) bagi Kalimantan,” terang Dana.

Kamper merupakan komoditi permintaan Portugis dari Kalimantan pada abad ke-16. Kamper jadi ikon seperti halnya cengkih dari Maluku, pala dan bunga pala dari Banda, lada dari Sumatra dan Sunda, juga cendana dari Timor.

Dana menambahkan, penyebutan kamper juga digunakan untuk penamaan umum berbagai jenis wewangian, bahan pembuatan dupa, dan tidak hanya untuk spesies kapur barus.

Dengan demikian, wewangian lain, seperti gaharu, kemenyan, dan berbagai resin kayu, termasuk kayu manis liar, sintok, dan petanang, juga kerap disebut kamper. (***)

No More Posts Available.

No more pages to load.