Cetak dan Edarkan Upal, Mandor Sawit Diringkus Polisi

oleh
Kapolres Lamandau AKBP Bronto Budiyono menunjukan barang bukti berupa uang palsu yang diedarkan tersangka S.

Lamandau, Borneo24.com Jajaran Polres Lamandau berhasil mengungkap kasus peredaran uang palsu yang diduga dilakukan oleh seorang pria berinisial S (28), warga Desa Nanga Kemujan, Kecamatan Bulik Timur, Kabupaten Lamandau.

Kapolres Lamandau, AKBP Bronto Budiyono menjelaskan, pihaknya berhasil mengamankan pelaku beserta barang bukti berupa uang palsu (upal) pecahan 100 Ribu Rupiah sebanyak 47 lembar serta barang bukti (barbuk) lainnya.

“Mendapat laporan adanya peredaran upal, tim Tipiter dan Unit Lidik melakukan penyelidikan di TKP,” kata Kapolres pada Selasa, 4 Oktober 2022.

Diungkapkan Bronto, tersangka mengedarkan upal dengan modus mencampur uang asli dan uang palsu, lalu melakukan transfer ke rekening miliknya sendiri melalui agen Brilink.

“Kami mendapat laporan jika tersangka telah melakukan aksinya di dua agen brilink yang ada di Kecamatan Bulik dan Kecamatan Bulik Timur,” beber Kapolres.

Memperoleh informasi ciri-ciri terduga pelaku, lanjut Bronto, pihaknya langsung memeriksa rekaman CCTV yang dipasang di TKP dan selanjutnya meminta pihak bank untuk memblokir rekening milik terduga pelaku.

“Kemudian pada 26 September 2022, petugas mendapat laporan dari personel Pospol Menthobi telah mengamankan seseorang yang akan akan membuka blokir rekening di bank BRI cabang setempat,” ujarnya.

Kemudian, lanjut Kapolres, setelah dilakukan interogasi dan pendalaman serta penggeledahan di rumah terlapor, petugas berhasil menemukan pakaian yang dipakai saat melakukan peredaran Upal serta peralatan yang digunakan untuk membuat uang palsu.

“Pelaku mencetak atau memfotocopy (warna) uang pecahan Rp 100 ribu dengan media kertas hvs menggunakan mesin printer, kemudian memotong menggunakan gunting. Setelah terkumpul, 47 lembar upal dicampur dengan uang asli, lalu pelaku melakukan transfer tunai melalui agen Brilink ke rekening miliknya,” jelas Bronto.

Kepada Wartawan, pelaku yang berprofesi sebagai karyawan (mandor) di salah satu perusahaan perkebunan sawit di Lamandau itu mengaku hal tersebut dilakukan untuk menambah saldo tabungannya.

“Saya memperoleh panduan tata cara mencetak uang palsu dari internet, sengaja saya gunakan uang palsu untuk melakukan transfer tunai ke rekening milik saya melalui agen Brilink agar tidak dicurigai, saya menyesal,” ucap S.

Pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka dan dijerat Pasal 36 ayat 1 dan 3 UU RI Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, dengan ancaman pidana penjara paling lama 15 tahun dan pidana denda paling banyak Rp 50 Miliar. (***)

No More Posts Available.

No more pages to load.