Komnas PA Laporkan ke Polisi Adanya Dugaan Kekerasan Seksual Pada Puluhan Anak di Kota Batu

oleh
Ilustrasi Gambar.

Jawa Timur, Borneo24.com – Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak (PA) menemukan sejumlah dugaan kekerasan seksual pada belasan anak di Kota Batu. Kekerasan seksual itu diduga dilakukan oleh pemilik sekolah yang cukup terkenal di Kota Batu.

Temuan ini pun dilaporkan oleh Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait ke Polda Jatim. Proses pelaporan didampingi oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Batu, MD Furqon serta tiga korban kekerasan seksual.

“Ini menyedihkan karena ini adalah sekolah yang dibanggakan oleh Kota Batu dan Jatim tapi ternyata menyimpan kejahatan yang luar biasa hingga bisa mencederai dan menghambat anak-anak untuk tumbuh dan berkembang dengan baik,” ujarnya, Sabtu (29/5).

Sekolah yang dimaksud oleh Arist cukup ternama lantaran digratiskan bagi anak-anak kurang mampu dan yatim piatu di Kota Batu.

Sementara pihak yang dilaporkan oleh Arist adalah pemilik sekolah yang diduga melakukan kekerasan seksual, fisik, verbal, dan eksploitasi anak-anak.

“Ternyata di sana tersimpan kasus-kasus kejahatan seksual yang dilakukan oleh pemilik SPI itu melakukan kejahatan seksual pada puluhan anak-anak pada masa bersekolah di situ antara kelas 1, 2, dan 3 sampai pada anak itu lulus dari sekolah masih mengalami kejahatan seksual dari pemilik sekolah itu,” katanya.

Ia menyebut, pihaknya mendapat laporan adanya kasus itu sejak sepekan lalu dari salah seorang korban. Ia pun menindaklanjuti laporan ini dan mengumpulkan keterangan-keterangan lain dari siswa dan alumni yang tersebar di Indonesia. Hasilnya, tak hanya satu dua orang saja yang mengaku menjadi korban kejahatan JE.

“Peserta didik ini berasal dari berbagai daerah, dari keluarga-keluarga miskin yang seyogyanya dibantu agar bisa berprestasi dan sebagainya. Tapi ternyata dieksploitasi secara ekonomi, seksual, dan sebagainya. Ada yang dari Palu, Kalimantan Barat, Kudus, Blitar, Kalimantan Timur, dan sebagainya,” ungkapnya.

Berdasarkan berbagai bukti dan keterangan saksi yang telah ia kumpulkan, Arist pun melaporkan JE dengan tiga dugaan pasal berlapis. JE dipolisikan atas dugaan kekerasan seksual terhadap anak, kekerasan fisik dan verbal terhadap anak, dan eksploitasi anak-anak.

“Dia bisa dikenakan tiga pasal berlapis yaitu kekerasan seksual Pasal 82 UU 35 tahun 2014 dan UU 17 tahun 2016 dengan hukuman maksimal seumur hidup. Bahkan kalau itu terbukti dilakukan berulang-ulang bisa dikebiri. Kemudian eksploitasi ekonomi bisa di Pasal 81, kekerasan fisik di Pasal 80,” katanya. (***)

No More Posts Available.

No more pages to load.