Pelecehan Seksual Yang Dilakukan Mantan Aktivis LAMRI

oleh
Pelecehan Seksual di Surabaya Yang Dilakukan Eks Aktivis Lamri

Surabaya, Borneo24.com – Eks anggota Laskar Mahasiswa Republik Indonesia (LAMRI), AS, diduga melakukan tindakan kekerasan atau pelecehan seksual. Sejauh ini, dinyatakan LAMRI, korban yang sudah mengungkap dugaan tindakan pelecehan seksual oleh terduga ada lima orang.

Kasus ini terungkap ke publik usai organisasi Laskar Mahasiswa Republik Indonesia (LAMRI) Surabaya, Jawa Timur, buka suara perihal pemecatan terduga pada 2018 silam. “LAMRI Surabaya per tanggal 2 Maret 2018 secara resmi telah mengeluarkan surat pemberhentian anggota terhadap AS,” begitu pernyataan tertulis LAMRI. CNNIndonesia.com telah mendapatkan izin untuk mengutip keterangan yang juga diunggah ke akun media sosial organisasi tersebut, Selasa (2/11).

Pernyataan LAMRI soal pemecatan 2018 itu dipublikasikan lagi karena AS diduga melakukan pencemaran nama baik, menyebarkan isu palsu, serta melakukan tindakan yang menyebabkan kerugian terhadap korban baik secara fisik dan psikis. Beberapa waktu terakhir LAMRI menilai AS telah menyebarkan isu tak benar perihal pemecatan dirinya dari organisasi. Kepada sejumlah orang, AS mengaku bahwa LAMRI memecatnya lantaran sikap organisasi yang tidak menghendaki ada relasi romantis maupun hubungan seksual antar anggota atas dasar suka sama suka.

LAMRI menyatakan dalih AS tidak benar. LAMRI pun melampirkan sejumlah bukti dan keterangan saksi bahwa AS telah memaksa korbannya untuk melakukan hubungan seksual tanpa consent. “Makin hari isu ini menjadi bola liar yang mencemarkan nama baik organisasi dan juga melukai perasaan korban,” tulis LAMRI. Sebagai informasi, consent adalah persetujuan afirmatif yang diberikan secara sadar, volunter dan tidak dalam hasutan atau ancaman untuk terlibat dalam berbagai aktivitas seksual atau nonseksual.

LAMRI pun menguak kronologi dan modus pelecehan yang diduga dilakukan AS terhadap lima korbannya sejauh ini–sejak yang terjadi pada 2014 silam. Dalam keterangannya, LAMRI menyatakan setelah sidang yang berujung pemberhentian AS pada 2 Maret 2018 ada kesepakatan antara pelaku dan dua korban yang melapor serta anggota yang terlibat dalam sidang agar kasus itu tak diungkap. Pasalnya disebut korban tak ingin permasalahan itu meluas. Namun, LAMRI Surabaya terpaksa memublikasikan persoalan AS itu tahun ini karena sejumlah pertimbangan dan investigasi lanjutan, termasuk masih ada yang menjadi korban pada tahun ini. “Kejadian tersebut meninggalkan trauma bagi korban hingga sempat mengalami depresi berat,” bunyi laporan Tim Investigasi LAMRI Surabaya pada salah satu korban.

Atas kejadian Ini, LAMRI Surabaya pun menuntut AS untuk meminta maaf secara terbuka, dan menanggung biaya pemulihan psikologis para korban. “LAMRI berdiri bersama penyintas,” tegas mereka. AS diketahui merupakan mahasiswa pascasarjana di Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta. Sebelumnya ia merupakan lulusan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Dia juga menjadi kontributor lepas di beberapa media nasional, serta bergelut di dunia aktivisme.

Sementara itu, situs berita Tirto.id yang namanya terseret dalam kasus ini, mengaku mengecam tindakan kekerasan seksual yang dilakukan Kontributor lepasnya tersebut. Mereka menurunkan seluruh artikel yang pernah ditulis pelaku, dan siap membantu keberlanjutan proses pemenuhan keadilan bagi penyintas. “AS memang bukan wartawan Tirto, dan tidak pernah menjadi wartawan Tirto. Status dia adalah kontributor lepas,” kata Plh Pemimpin Redaksi Tirto, Ivan Aulia Ahsan saat dihubungi, Selasa (4/11). “Tunggu rilis saja… Kalau sudah available, pasti saya tulis. Tapi kemungkinan beberapa hari ke depan,” katanya saat dihubungi via layanan pesan, Selasa. (***)

No More Posts Available.

No more pages to load.