Polda Kalteng Terima Laporan Dari Puluhan Warga Terkait Investasi Bodong

oleh
Para Korban Penipuan Saat Lapor Di Polda Kalteng

Palangka Raya, Borneo24.comSebanyak 23 masyarakat Kalimantan Tengah (Kalteng) diduga menjadi korban investasi bodong hingga mengalami total kerugian sebesar Rp 2 miliar lebih.

Kuasa hukum 23 korban, Parlin B. Hutabarat usai membuat laporan di Polda Kalteng mengatakan, awalnya para korban ini diajak oleh terduga pelaku berinisial PJN VS dan BC untuk ikut dalam investasi di PT TRB dan ICE dengan iming-iming profit yang besar. “Jadi mereka ini awalnya ikut karena diiming-imingi profit hingga bonus dari investasi itu. Atas dasar itu lah para korban ini akhirnya mau untuk bergabung menjadi member,” katanya, Senin (17/1/2022).

Dijelaskannya, pada awalnya investasi yang diikuti para korban berjalan dengan lancar. Keuntungan yang diberikan setiap minggunya pun terus diberikan oleh terduga pelaku. Namun setelah beberapa bulan kemudian, keuntungan yang sebelumnya didapatkan oleh para korban, secara tiba-tiba macet. Kejadian tersebut tidak berlaku pada satu korban saja. Melainkan ke seluruh korban yang ada di Kalteng. “Jadi untuk meyakinkan para calon membernya, terduga pelaku membuat testimonial terkait keberhasilan dari mengikuti investasi tersebut,” ucapnya.

Dalam mengikuti investasi tersebut, para korban yang berasal dari hampir seluruh wilayah di Kalteng ini, rata-rata menyetorkan uang minimal Rp 10 juta hingga Rp 1 miliar, untuk mengikuti investasi tersebut. Untuk itu, mewakili para korban, pihaknya melaporkan yang bersangkutan ke Polda Kalteng agar dapat segera ditindaklanjuti sesuai hukum yang berlaku.

“Perwakilan dari Ditreskrimsus Polda Kalteng tadi sudah menyampaikan, akan segera menindaklanjuti laporan kami. Karena harapan klien kami, uang mereka dapat kembali dan kedepannya tidak ada lagi korban dari investasi tersebut,” ujarnya.

MR salah seorang korban investasi itu mengaku, jika dirinya telah mengikuti investasi tersebut sejak awal tahun 2021 lalu dengan modal sebanyak Rp 400 juta lebih untuk tiga paket investasi. Berdasarkan perjanjian, keuntungan yang diperoleh sebesar lima persen tiap minggunya, yang akan diberikan selama 24 minggu.

“Kerugian saya, untuk TDP modalnya Rp 400 juta dan untuk RVD Quantum itu Rp 9 juta. Tetapi nanti ada potongan admistrasi satu kali di minggu ke 23. Jadi kalau saya hitung seharusnya di Minggu ke 25 setiap paket itu modalnya sudah balik. Tetapi ternyata di minggu kedua bulan Oktober 2021, semuanya macet,” akunya.

Bahkan, dirinya juga sebelumnya sempat menanyakan kepada member lainnya terkait legalitas investasi tersebut. Akan tetapi hingga saat ini, dirinya tidak pernah ditunjukkan oleh terduga pelaku terkait bukti-bukti legalitas dari investasi tersebut. “Pada saat ada pertemuan RVD Quantum itu saya sempat menanyakan apakah ini legal. Di pertemuan itu mereka bilang kalau ini aman sudah dilindungi juga oleh OJK. Jadi saya merasa tambah yakin,” bebernya.

Sementara itu, salah seorang korban lainnya, SI mengaku mengalami kerugian sebesar Rp 200 juta dalam mengikuti investasi tersebut. “Saya punya dua akun, satu akun itu nominalnya Rp 100 juta. Jadi saya itu pakai uang pensiun saya, terus kan suami saya resign dari pekerjaannya dan ada mendapatkan uang dari BPJS Ketenagakerjaan dan tabungan anak untuk bisa ikut investasi itu,” katanya.

Pada saat awal mengikuti investasi, dirinya hanya mengikuti dengan satu akun saja. Namun setelah beberapa bulan keuntungan terus diraih, sehingga membuat dirinya yakin dan ingin menambah akun kembali. “Akun pertama dari Juli 2021 lalu, nah akun kedua itu baru masuk di Oktober 2021 dan langsung macet. Tidak ada profit sepeserpun. Bahkan modal saya di akun pertama belum kembali seutuhnya,” ujarnya.

Berdasarkan hasil mediasi bersama terduga pelaku, modal yang dimilikinya akan direfund atau dikembalikan. Namun hingga saat ini modal yang dimilikinya tidak kunjung dikembalikan. Rencana mereka mau direfund tapi sampai sekarang saya minta tindaklanjutnya tidak ada dari mereka.

“Kenapa saya bikin akun kedua, saya merasa yakin karena di akun pertama itu profitnya lancar. Jadi saya tambahkan lagi pakai dana pensiun sampai ke tabungan anak. Kami korban-korban ini bukan orang yang berada. Jadi kami di sini ini mengharapkan dengan ikut ini bisa memperbaiki ekonomi kami. Tapi ternyata malah kami ditipu,” tuturnya. Untuk itu dirinya berharap, agar permasalahan ini dapat segera ditindaklanjuti oleh aparat kepolisian, sehingga para korban bisa mendapatkan kembali uang mereka. (***)

No More Posts Available.

No more pages to load.