Desa Limbo Walio di Kota Baubau Punya Benteng Terluas di Dunia

oleh
Benteng Keraton Buton Merupakan Peninggalan Sejarah Yang Menjadi Unggulan Pariwisata Kota Baubau, Buton, Sulawesi Tenggara.

Sulawesi Tenggara, Borneo24.com Desa Wisata Limbo Wolio yang berada di puncak bukit Kota Baubau memiliki benteng terbesar di dunia dengan luas 23,3 hektare yaitu Benteng Keraton Buton atau Benteng Wolio. Benteng tersebut telah tercatat di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dan Guinness Book of World Record pada 2006. dikutip dari laman Kemenparekraf Sabtu (11/6/2022).

Benteng Wolio dibangun sekitar abad ke-16, oleh Raja Buton III bernama La Sangaji yang bergelar Kaimuddin. Awalnya benteng hanya dibangun dalam bentuk tumpukan batu karst, disusun mengelilingi kompleks istana guna membuat pagar pembatas antara komplek istana dengan permukiman masyarakat, sekaligus sebagai benteng pertahanan.

Namun, pada masa pemerintahan Raja Buton IV, La Elangi atau Dayanu Ikhsanuddin, benteng berupa tumpukan batu itu dijadikan bangunan permanen.

Batuan tersebut direkatkan dengan campuran putih telur, pasir, dan kapur. Benteng Wolio memiliki 12 pintu gerbang yang disebut Lawa, 16 emplasemen meriam yang disebut Badili, empat Boka-boka (bastion berbentuk bulat), batu tondo (tembok keliling), parit, dan persenjataan.

Lokasinya yang cukup tinggi di puncak bukit dengan lereng terjal, menjadikan benteng ini sebagai tempat pertahanan terbaik pada zamannya. Selama masa kejayaan pemerintahan Kesultanan Buton, keberadan Benteng Wolio memberikan pengaruh besar terhadap eksistensi kerajaan.

Hal ini karena, dalam kurun waktu lebih dari empat abad, Kesultanan Buton bisa bertahan dan terhindar dari ancaman musuh.

Menariknya, di dalam kawasan benteng juga terdapat sebuah makam milik Sultan Muhrum, yang dibangun guna memberikan penghormatan kepada jasa-jasa Sultan Muhrum semasa hidupnya. Sultan Murhum Qaimuddin Khalifatul Khamis, atau Lakilaponto, juga dikenal sebagai Sultan Buton VI, merupakan salah satu sultan yang sangat dihormati.

Beliau menjadi sultan pertama dan raja terakhir, karena sistem pemerintahan yang semula kerajaan diubah menjadi kesultanan. Sebagai raja beliau memerintah selama 20 tahun, sementara sebagai sultan selama 26 tahun.

Agama Islam mulai masuk ke Kota Baubau saat di bawah pemerintahan Sultan Muhrum. Semasa pemerintahannya pula, ia mendirikan sebuah masjid yang diberi nama Masigi Ogena, atau Masjid Agung Kesultanan Buton yang masih difungsikan sebagai tempat ibadah umat Islam hingga saat ini.

Menurut Keterangan Ketua Pokdarwis Dadi Mangora, Keraton Molagina Maman di dalam Masjid Agung Kesultanan Buton ini sarat akan makna. Seperti dari segi jumlah anak tangga, ada sebanyak 17 yang menandakan jumlah rakaat salat. Lalu  bedugnya memiliki panjang 99 sentimeter melambangkan Asmaul Husna. Selain itu, pasaknya berjumlah 33 sesuai dengan jumlah tasbih.

Saat ini makam Sultan Muhrum kerap dimanfaatkan masyarakat sebagai tempat wisata ziarah atau yang disebut dengan Santiago. Di dekat makam Sultan Muhrum terdapat Batu Yi Gandangi. Menurut masyarakat setempat, belum sah ke Kota Baubau kalau belum menyentuh batu tersebut.

Dulunya, terdapat mata air di celah batu yang diyakini bisa mengeluarkan air apabila ada penobatan raja atau sultan. Selain Benteng Wolio yang menjadi warisan budaya Nusantara, terdapat pula beragam atraksi wisata menarik. Di antaranya Kande-Kandea, Posipo, Alana Bulua, Dole-Dole, Tandaki, Haroa, Qadiri, Qunua, Tembaana Bula, serta berbagai permainan tradisional. Namun, atraksi tersebut hanya bisa dinikmati pada waktu tertentu, tergantung tradisi masyarakat Buton dan event budaya lainnya di Kota Baubau.

Dengan potensi desa wisata yang begitu besar, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno berpesan kepada warga setempat agar dapat mempertahankan kelestarian dan keberlanjutan Desa Wisata Limbo Wolio.

Perlu diketahui, Desa Wisata Limbo Wolio masuk peringkat 50 besar desa wisata terbaik di Indonesia dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022. Ajang tersebut diadakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). (***)

No More Posts Available.

No more pages to load.