Desain Rumah Rusun Untuk Tunawisma, Mahasiswa FTUI Raih Juara Kompetisi Internasional

oleh
Mahasiswa UI Rancang Rusun Tunawisma Raih Kompetisi Internasional

Jakarta, Borneo24.com Tiga mahasiswa Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Indonesia ( FT UI), merancang “The Passage”, sebuah desain rumah susun yang dapat menjadi solusi dalam menyediakan tempat tinggal bagi para tunawisma perkotaan di masa pandemi Covid-19.

Desain itu mengantar Aurelia Audrey, Rifki Fauzan, dan Tannia Aurellia meraih Juara 2 pada sayembara internasional Skid Row 2021 International Design Competition. Sayembara internasional ini diselenggarakan oleh The American Institute of Architects (AIA) Committee on Design.

Dekan Fakultas Teknik UI Heri Hermansyah dalam keterangan tertulisnya menyampaikan apresiasi atas pencapaian prestasi internasional yang diraih mahasiswa arsitektur Fakultas Teknik UI beserta pembimbingnya. Heri berharap agar pencapaian para mahasiswa tersebut dapat memotivasi mahasiswa arsitektur lainnya untuk mengembangkan minat dan potensi di bidang arsitektur dan menambah kepercayaan diri dalam bersaing di dunia internasional.

“Desain The Passage dapat diimplementasikan di Indonesia dengan menyesuaikan kondisi yang ada sebagai alternatif solusi permasalahan gelandangan dan pengemis yang semakin marak di kota-kota besar Indonesia,” katanya.

Tim Fakultas Teknik UI dibimbing oleh dosen Departemen Arsitektur dan arsitek profesional, yakni Evawani Ellisa, Baiq Lisa Wahyulina, dan Farrell Jeremiah. The Passage berkompetisi dengan karya-karya lain dari seluruh dunia yang diselenggarakan pada 8 Oktober 2021 – 3 Januari 2022.

Tunawisma merupakan masalah yang melekat dan menjadi krisis di sebagian besar kota. Pada kawasan kumuh di kawasan Skid Row District, Los Angeles, Amerika Serikat, ada 10.580 orang dan sekitar setengahnya hidup sebagai gelandangan. “Yang mengejutkan, mayoritas penghuni kawasan kumuh ini adalah orang dewasa pada usia produktif,” kata Aurelia terkait kondisi warga Skid Row District.

Tannia Aurellia menjelaskan filosofi desain The Passage sebagai jalan setapak yang sempit, tapi juga menjadi tempat untuk menjalani kehidupan yang besar dan dinamis. Dia berharap The Passage bisa membawa perubahan bagi masyarakat untuk bisa mencapai produktivitas.

Evawani Ellisa yang dikenal sebagai pakar perancangan kota memaparkan desain ini diharapkan dapat menjadi jawaban atas tiga permasalah utama yang dihadapi tunawisma, yaitu tidak produktif, diskriminasi, dan tidak adanya atau kurangnya perlindungan bagi mereka. “Kami ingin The Passage menjadi ruang untuk mengejar produktivitas, memastikan perlindungan bagi individu dan sebagai wadah mendukung kegiatan berbasis komunitas,” katanya.

Rifki Fauzan menambahkan sirkulasi menjadi salah satu tema desain penting dan mendasar sehingga dapat memberikan pengalaman hidup yang baik. “Ide The Passage ini guna menciptakan ruang dengan keterbukaan dan fleksibilitas yang memfokuskan pada aspek-aspek positif kehidupan jalanan,” katanya.

Desain The Passage berupa dua massa bangunan utama yang dirangkul oleh void guna mempertegas strategi pembentukan ruang sirkulasi utama yang bersifat linear. Elemen sirkulasi penghubung antar unit didesain berupa ramp yang membentuk ruang komunal linear multifungsi yang dapat dimanfaatkan untuk aktivitas pengembangan diri para tunawisma.

Massa bangunan staging membagi hierarki antar fungsi, level lantai yang lebih rendah diorientasikan untuk fungsi publik, sedangkan level lantai yang lebih tinggi sebagai ranah fungsi privat. “Layout bersifat open plan guna merespon tantangan kebutuhan ruang di masa mendatang, baik dalam kondisi pandemi maupun non-pandemi,” ujar Baiq Lisa Wahyulina.

Ia menjelaskan, layout dan peruntukan ruang bersifat convertible. Ruang komunitas ditempatkan di bagian paling depan. Ruang tersebut merupakan ruang terbuka yang dipenuhi tanaman hijau dan tangga yang dilengkapi dengan area duduk. “Tujuannya untuk menciptakan lingkungan yang ramah bagi masyarakat, meningkatkan interaksi satu sama lain, dan guna melakukan kegiatan sosial bagi masyarakat,” jelas Baiq.

Mulai dari lantai dua sampai enam, ruang tengah bangunan dilengkapi dengan tanjakan panjang yang menghubungkan semua tingkat yang berisi unit hunian sampai ke bagian atas bangunan. Setiap berpindah ke lantai berikutnya melalui ramp, maka penghuni akan melewati teras yang dilengkapi dengan ruang terbuka hijau. Fungsinya sebagai penyangga dan ruang bersama bagi penghuni di setiap lantai. (***)

No More Posts Available.

No more pages to load.