Indonesia Masih Perlu Mengutang Untuk Tangani Covid-19

oleh
Ilustrasi Gambar.

Jakarta, Borneo24.com – Untuk memenuhi kebutuhan di masa pandemi khususnya terkait pendanaan vaksin virus corona atau covid-19, Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis Yustinus Prastowo mengungkapkan Indonesia masih membutuhkan pembiayaan utang untuk kebutuhan belanja negara pada 2021.

“Jadi terang kenapa kita berutang, karena masih tingginya pembiayaan pandemi covid-19,” kata Yustinus di akun Twitter pribadinya, Rabu (27/1).

Estimasi saat ini, alokasi dana untuk program vaksinasi mencapai Rp50,74 triliun. Selain itu, utang juga diperlukan untuk pemulihan kredit sebesar Rp66,7 triliun.

“Jadi tidak mubazir, justru bermanfaat buat rakyat,” imbuhnya.

Sementara utangnya berasal dari kelebihan penerbitan surat utang pada tahun lalu. Kelebihan itu masuk ke pos Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) 2021 sebesar Rp234,7 triliun.

Yustinus mengatakan utang masih perlu digunakan pada tahun ini karena penerimaan pajak masih tertekan di tengah pandemi covid-19. Sebab, aktivitas ekonomi masih terbatas dan ketidakpastian masih tinggi.

Kendati begitu, ia menjamin penggunaan utang tidak akan ugal-ugalan. Pasalnya, utang ditarik dengan perhitungan dan dikelola dengan hati-hati dan akuntabel.

Bahkan, turut diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Selain itu juga dipertanggungjawabkan ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

“Ugal-ugalan? Lha buat menyelamatkan rakyat, berapa pun ongkosnya musti ditanggung,” pungkasnya. (***)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.