KKP Ingatkan Pentingnya Mitigasi Hama Penyakit Ikan

oleh
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengingatkan pentingnya mitigasi hama dan penyakit ikan khususnya pada komoditas-komoditas prioritas budidaya seperti udang, rumput laut, dan lainnya.

Jakarta, Borneo24.comKementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengingatkan pentingnya mitigasi hama dan penyakit ikan khususnya pada komoditas-komoditas prioritas budidaya seperti udang, rumput laut, dan lainnya.

“Dari sisi kami, tentu memberikan dukungan dari sisi quality assurance untuk mencegah adanya hama dan penyakit ikan,” kata Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM), Pamuji Lestari Kamis (8/12/2022).

Ia memaparkan penyakit udang bisa berampak pada penurunan laju pertumbuhan produksi. Hal ini pun pernah terjadi di Asia dan Dunia seperti pada 2006 silam yang turut menyebabkan kerugian ekonomi.

“Di Brazil pernah terjadi pada tahun 2006 dan mengakibatkan kerugian hingga USD1 miliar,” urai Tari.

Bahkan Negeri Jiran juga pernah mengalami kerugian mencapai USD100 juta akibat merebaknya virus APHND pada tahun 2011. Kemudian di Thailand pada 2011-2016 yang juga memicu kerugian ekonomi mencapai USD7,4 miliar.

“Belum lagi ditambah kerugian ekspor USD4,2 miliar yang dialami Thailand,” sambungnya.

Selain itu, pada tahun 2010-2016, negara-negara seperti Tiongkok, Malaysia, Mexico dan Vietnam merugi hingga USD23,6 miliar akibat virus APHND. Nilai ini belum termasuk kerugian penjualan pakan sebesar USD7 miliar saat kemunculan kasus Koi Herpes virus dari Maret 2002 hingga Desember 2003.

“Nilai kerugian di kasus Koi Herpes Virus mencapai USD15 juta. Tentu ini jadi peringatan dan pembelajaran terkait pentingnya quality assurance,” kata Tari.

Merujuk pada persoalan tersebut, Tari mengungkapkan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono telah memerintahkan BKIPM sebagai quality assurance produk hasil perikanan mulai hulu-hilir. Dikatakannya, BKIPM juga harus menjamin produk hasil perikanan sejak ikan dibudidayakan untuk produk perikanan budidaya dan sejak ikan ditangkap diatas kapal untuk produk perikanan tangkap.

“Tentu ini sejalan dengan semangat Pak Menteri Trenggono terkait program ekonomi biru atau penggunaan sumber daya laut secara berkelanjutan untuk pertumbuhan ekonomi, peningkatan lapangan pekerjaan dan kesejahteraan umat manusia, dan  secara simultan menjaga kesehatan serta keberlanjutan ekosistem laut,” tuturnya.

“Banyak produk industri bioteknologi kelautan yang bahan baku (raw materials) nya dari Indonesia diekspor ke negara lain, namun negara pengimpor memprosesnya menjadi beragam produk akhir (finished products) seperti farmasi, kosmetik, dan healthy food and bevareges lalu diekspor ke Indonesia. Contohnya gamat, squalence, colagen, minyak ikan, dan Omega-3,” katanya. (***)

No More Posts Available.

No more pages to load.