Tingginya Komoditas Energi dan Pangan, Kemenkeu Potong Anggaran Kementerian Rp 24,5 Triliun

oleh
Menteri Keuangan Sri, Mulyani Indrawati.

Jakarta, Borneo24.com Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akan memotong anggaran seluruh kementerian/lembaga dengan total Rp 24,5 triliun. Pemotongan anggaran dikonfirmasi langsung oleh Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, Isa Rachmatarwata.

Nantinya dana tersebut akan dipakai untuk cadangan dari kenaikan harga energi dan pangan akibat tensi geopolitik dan tidak stabilnya kondisi ekonomi global.

“Kementerian/lembaga (K/L) diminta menyisihkan total (seluruh KL) Rp 24,5triliun untuk cadangan bila terjadi kebutuhan mendesak yang diakibatkan kenaikan harga komoditas energi dan pangan,” kata, Senin (30/5/2022).

Isa menuturkan, dana ini merupakan cadangan tambahan di luar cadangan pemerintah yang sudah disetujui Badan Anggaran (Banggar) DPR RI dua pekan lalu.

Berdasarkan persetujuan Banggar, pemerintah menambah anggaran subsidi energi dan kompensasi Rp 291 triliun sejak pekan lalu. Nilainya kini mencapai Rp 443,6 triliun dari alokasi awal Rp 152,5 triliun.

Rinciannya, anggaran subsidi energi ditambah Rp 74,9 triliun, dari semula hanya Rp 134 triliun menjadi Rp 208,9 triliun. Subsidi BBM dan elpiji bertambah Rp 71,8 triliun dan subsidi listrik bertambah Rp 3,1 triliun.

Sementara, anggaran kompensasi energi naik sebesar Rp 216,1 triliun, dari semula Rp 18,5 triliun menjadi Rp 234,6 triliun.

“Cadangan tambahan ini tidak boleh dipakai sampai tekanan akibat kenaikan harga mereda atau dapat dimitigasi dengan anggaran lain yang disiapkan, termasuk tambahan pagu untuk subsidi dan kompensasi yang sudah disetujui DPR,” ucap Isa.

Sebagai informasi, berdasarkan Keputusan Menteri ESDM, harga rata-rata minyak mentah (Indonesian Crude Price/ICP) menjadi 102,51 dollar AS per barrel pada April 2022.

Angkanya sudah lebih tinggi dari asumsi awal dalam APBN sebesar 63 dollar AS per barrel. Tingginya harga minyak mentah membuat nilai subsidi dan kompensasi energi pemerintah naik signifikan dari yang biasanya hanya di kisaran Rp 15-19 triliun, menjadi puluhan triliun. (***)

No More Posts Available.

No more pages to load.