Kemenag dan Kemendikbudristek Perkuat Moderasi Beragama di Sekolah

oleh
Ilustrasi.

Jakarta, Borneo24.com Kementerian Agama (Kemenag) dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) membahas penguatan moderasi beragama di sekolah.

Diskusi ini dilakukan melalui Direktur Pendidikan Agama Islam (PAI) Kemenag dan jajarannya serta Staf Khusus Mendikbudristek Bidang Kelembagaan dan Manajemen Pendidikan, Paroma Dei Sudharma di Senayan.

Direktur PAI Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Amrullah menyebut diskusi ini terus dilakukan mengingat karakteristik sekolah dan perguruan tinggi umum lebih beragam, baik dalam segi adat istiadat, bahasa, atau agama. Kegiatan ini juga sejalan dengan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 494 Tahun 2022 tentang tahun Toleransi 2022.

Amrullah menjelaskan, dalam KMA 494/2022 dinyatakan, dalam tahun toleransi 2022 ada program pembangunan ekosistem dunia pendidikan yang menumbuhkembangkan nilai toleransi dan harus dikoordinasikan dengan Kemendikbudristek.

Dia menegaskan, koordinasi menjadi penting karena Kemendikbudristek memiliki berbagai program penting dalam rangka peningkatan mutu dan kualitas pendidikan nasional.

“Program moderasi beragama pada sekolah sejalan dengan program Kemendikbudristek yang mengedepankan nilai-nilai toleransi dalam dunia pendidikan,” ungkap Amrullah, dikutip dari laman resmi Kemenag pada Jumat (25/11/2022).

Moderasi Beragama Jadi Program Prioritas Kemenag

Amrullah menyampaikan, program moderasi beragama penting dilakukan di sekolah. Penyebabnya, selain karena merupakan bagian dari program prioritas Kemenag, juga karena moderasi beragama adalah salah satu modal yang perlu dimiliki tiap individu dalam melaksanakan peran sosialnya di tengah masyarakat yang multikultural.

Selain itu, dia menguraikan ada empat indikator moderasi beragama, antara lain komitmen kebangsaan, toleransi, antikekerasan, dan penerimaan atas tradisi.

“Nilai toleransi merupakan bagian penting dari moderasi beragama, karena kita hidup di sebuah alam yang transnasional dan bergerak sedemikian rupa karena itu diharapkan kita memiliki pondasi yang kuat,” jelasnya.

Lulusan Universitas Islam Syekh Yusuf Tangerang itu menyatakan, program moderasi beragama Kemenag juga memperoleh dukungan dari Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim pada acara Aksi Moderasi Beragama tahun lalu.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan dukungan Menteri Nadiem Makarim pada acara Aksi Moderasi Beragama tahun 2021 dan kemudian diimplementasikan dalam kurikulum di sekolah penggerak”, ujar Amrullah.

Staf khusus Mendikbudristek Bidang Kompetensi dan Manajemen, Pramoda Dei Sudarmo menuturkan, Kemendikbudristek berkeinginan supaya seluruh sekolah bisa membangun toleransi dan keragaman agama yang terjalin secara harmonis dan rukun.

Pramoda Dei menyatakan dukungan penuh Kemendikbudristek atas upaya Kemenag dalam program moderasi beragama yang di dalamnya memuat penguatan toleransi.

“Kami siap bekerjasama untuk masa depan anak bangsa yang lebih baik,” ucapnya.

Terlebih, Mendikbudristek juga mendorong supaya toleransi dan keberagaman disuarakan di dunia pendidikan. Pasalnya, intoleransi adalah salah satu dari tiga dosa dunia pendidikan sekarang ini, sedangkan dua dosa lainnya adalah kekerasan seksual dan perundungan.

Menurutnya, Kemendikbudristek berkomitmen agar segala bentuk intoleransi tidak tidak akan dibiarkan terjadi dalam sistem pendidikan di negeri ini.

“Sekolah harus memiliki conceptual framework untuk tahun toleransi, yaitu kurikulum yang menekankan toleransi, berpikir kritis, assessment, pelatihan untuk pendidik, lingkungan/infrastruktur yang bersahabat, sistem yang baik untuk melaporkan kasus-kasus intoleransi dan penanganan yang baik dan sarana ibadah yang mendukung moderasi beragama,” papar Pramoda Dei.

Stafsus yang akrab disapa sebagai Mas Dei ini melanjutkan, kebijakan Kemendikbudristek saat ini pun merambah pada nilai keberagaman dan toleransi di perguruan tinggi. Semangat ini tampak pada program Kampus Merdeka dan pertukaran mahasiswa, baik di dalam maupun di luar negeri.

Pada akhir pertemuan, Pramoda Dei meyakinkan bahwa Kemendikbudristek akan selalu siap berkolaborasi dengan Kemenag untuk membangun dunia pendidikan Indonesia yang lebih baik dan bernapaskan toleransi.

“Kita memerlukan suasana sekolah dan kampus yang penuh dengan toleransi sehingga akan membangun suasana belajar yang kondusif,” pungkasnya. (***)

No More Posts Available.

No more pages to load.