Sistem dan Orbit Planet Yang Mirip Dengan Tata Surya

oleh
Sistem Tata Surya

Jakarta, Borneo24.com Sistem planet yang disebut mirip dengan Tata Surya kita, ditemukan berada jauh dari galaksi Bima Sakti. Dalam sebuah studi mengungkap fakta baru tentang orbit sistem planet TRAPPIST-1. Planet-planet di Tata Surya kita semua mengorbit Matahari yang kurang lebih dalam satu bidang. Jika dibandingkan dengan orbit Bumi, yang mendefinisikan bidang pada nol derajat, maka orbit planet dalam sistem planet Tata Surya dengan sudut terbesar adalah Merkurius dengan kemiringan 7 derajat.

Sedangkan orbit Pluto, si planet kerdil di Tata Surya, kemiringan orbitnya yakni 17,2 derajat. Karakteristik orbit planet-planet berkembang seiring dengan menghilangnya piringan gas dan debu protoplanet, serta saat planet-planet muda bermigrasi dalam piringan orbit sebagai respons terhadap pengaruh grafvitasi timbal balik dan efek material dalam pirongan tersebut. Oleh sebab itu, para astronom menyadari bahwa penampakan orbit sistem planet mencerminkan kisah evolusinya.

Sementara itu, pada sistem planet yang mirip Tata Surya bernama sistem TRAPPIST-1, memiliki orbit planet yang cukup unik. Sistem TRAPPIST-1 adalah Tata Surya lain di alam semesta yang memiliki tujuh planet seukuran Bumi yang mengorbit pada bintang kecil yang hanya bermassa 0,09 massa matahari, sistem planet ini berlokasi sekitar 40.000 tahun cahaya dari Matahari.

Sistem planet mirip Tata Surya kita ini, pertama kali ditemukan atau terdeteksi teleskop TRAPPIST-1, yang kemudian dilanjutkan dengan pengamatan kamera IRAC di Spitzer dan misi K2. Saat ini, pengamatan terhadap sistem planet ini telah menentukan massa planet dengan presisi antara 5-12 persen dan menyempurnakan sifat sistem lainnya.

Kemiringan orbit planet di sistem TRAPPIST-1
Namun, dalam pengamatan dan analisis terhadap sistem planet TRAPPIST-1 ini, para astronom, sejauh ini menemukan bahwa sistem tersebut telah memiliki orbit planet paling datar. Kemiringan orbit planet-planet dalam sistem planet yang mirip dengan Tata Surya kita ini hanya 0,072 derajat.

Kerataan ekstrem ini berpotensi menyebabkan ketidakleluasaan dalam pembentukan dan evolusi sistem planet tersebut. Sistem ini juga memiliki susunan planet yang sangat rapat. Dalam konfigurasi yang begitu rapat, gaya tarik gravitasi timbal balik planet-planet akan menjadi pengaruh yang sangat penting pada detail seperti inklinasi orbit planet. Dalam studi ini, astronom Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, Matthew Heising, Dimitar Sasselov, Lars Hernquist, dan Ana Luisa Tió Humphrey menggunakan simulasi komputer 3D dari cakram gas dan planet untuk mempelajari berbagai model pembentukan yang mungkin termasuk beberapa yang telah disarankan dalam penelitian sebelumnya.

Setelah mengetahui bahwa cakram protostellar gas mempengaruhi sifat migrasi planet-planet, para ilmuwan juga sangat tertarik untuk mengeksplorasi berapa massa piringan minimum untuk sistem TRAPPIST-1. Para peneliti ini pun mengadaptasi kode komputer AREPO, yang telah berhasil digunakan di masa lalu terutama untuk simulasi kosmologis.  Selanjutnya, para astronom menyimpulkan bahwa, sesuai dengan beberapa spekulasi sebelumnya, tujuh planet mungkin terbentuk secara berurutan.

Masing-masing planet awalnya berada pada jarak dari bintang, di mana suhu turun cukup untuk air membeku, dan kemudian bermigrasi ke dalam sistem, bertambah perlahan di jalan dan berhenti ketika orbitnya dipengaruhi oleh keberadaan planet lain secara tepat. Studi baru tentang orbit planet di sistemTRAPPIST-1 ini menunjukkan bagaimana simulasi sistem planet dapat digunakan untuk menyimpulkan detail luar biasa tentang bagaimana sistem ini terbentuk dan berevolusi.(***)

No More Posts Available.

No more pages to load.