Sutan Takdir Alisjahbana, Seorang Sastrawan dan Ahli Tata Bahasa Indonesia

oleh
Sutan Takdir Alisjahbana adalah seorang budayawan, sastrawan dan ahli tata bahasa Indonesia.

Jakarta, Borneo24.com Sutan Takdir Alisjahbana adalah budayawan, sastrawan, dan ahli tata bahasa Indonesia asal Sumatra Utara.  Sultan Takdir Alisjahbana adalah pelopor dan tokoh sastrawan “Pujangga Baru”. Ia merupakan orang pertama yang menulis Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia tahun 1936 yang masih digunakan sampai sekarang.  Cita-cita terbesar Sutan Takdir Alisjahbana adalah menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar di kawasan Asia Tenggara.  Namun, keinginannya belum bisa terwujud.  Saat itu, ia kecewa dengan perkembangan bahasa Indonesia yang kian menyurut.

Pendidikan
Sutan Takdir Alisjahbana atau STA lahir di Sumatra Utara, 11 Februari 1908.  Ia merupakan putra dari Raden Alisjahbana, seorang guru.  Ibunya bernama Puti Samiah, seorang Minangkabau keturunan Rajo Putih, salah seorang raja Kesultanan Indrapura.  Alisjahbana masih memiliki hubungan saudara dengan Perdana Menteri Pertama Indonesia Sutan Syahrir dari ibunya.

STA mengenyam pendidikan pertamanya di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Bengkulu tahun 1921. Setelah lulus dari HIS, STA lanjut ke Kweekschool di Bukittinggi. Kemudian, ia meneruskan sekolahnya di Hogere Kweekschool (HKS, sekolah guru tingkat atas) di Bandung tahun 1928. Sembari melanjutkan sekolahnya, STA juga sempat bekerja sebagai guru sekolah dasar di Palembang sejak tahun 1928 hingga 1929.  Setelah itu, tahun 1930 ia pindah ke Jakarta dan menjabat sebagai redaktur kepala Penerbit Balai Pustaka.

Ia juga menjadi pimpinan majalah Pandji Poestaka sejak tahun 1930 hingga 1942.  Di tengah sedang berkarier, STA sempat berkuliah di Rechtshogeschool, sekolah hukum tinggi di Jakarta pada tahun 1937.  Ia menyelesaikan pendidikan hukumnya tahun 1942, beriringan dengan berakhirnya kepempimpinan STA di majalah Pandji Poestaka.

Setelah itu, sejak tahun 1942 hingga 1945, STA bertugas sebagai penulis ahli dan anggota Komisi Bahasa Indonesia di Jakarta.  Kemudian, tahun 1945 ia menjabat sebagai Ketua Komisi Bahasa Indonesia hingga tahun 1950.  Masih dalam tahun-tahun itu, STA juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan yang kemudian ia diangkat sebagai guru dan Direktur SMA di sana.
Bersamaan dengan menjabat sebagai ketua yayasan, STA bertugas sebagai dosen di Universitas Indonesia untuk mata kuliah bahasa Indonesia sejak 1946 hingga 1948.

Karier

STA yang bersekolah hukum dan sastra, pernah memiliki beberapa pekerjaan di bidang sastra dan politik. Beberapa jabatan yang diembannya yakni:

  1. Redaktur Panji Pustaka dan Balai Pustaka tahun 1930 hingga 1933.
  2. Mendirikan dan memimpin majalah Poedjangga Baroe tahun 1933 hingga 1942 dan 1948-1953.
  3. Bergabung di Partai Sosialis Indonesia dan menjadi anggota parlemen sejak 1945 hingga 1949.
  4. Anggota Komite Nasional Indonesia (KNI) dan konstituante sejak 1950 hingga 1960.
  5. Anggota Societe de Linguistique de Paris (1951)
  6. Anggota Commite of Directors of the International Federation of Philosophical Sociaties (1954-1959)
  7. Anggota Board of Directors of the Study Mankind (sejak 1968)
  8. Rektor Universitas Nasional dan Ketua Akademi Jakarta (1970-1994)
  9. Anggota World Futures Studies Federation (sejak 1974)
  10. Anggota kehormatan Koninklijk Institute voor Taal, Land en Volkenkunde (sejak 1976)
  11. Pemimpin umum majalah Ilmu dan Budaya (1979-1994) Direktur Balai Seni Toyabungkah (1994)

Perkembangan Bahasa Indonesia

Semasa pendudukan Jepang, STA sempat menjadi Ketua Komisi Bahasa.  Ia melakukan modernisasi terhadap bahasa Indonesia sehingga dapat berperan sebagai bahasa nasional yang menjadi pemersatu bangsa.  Sutan Takdir Alisjahbana merupakan orang pertama yang menulis Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia yang digunakan sampai sekarang.  Ia juga menerbitkan kamus istilah yang berisi istilah-istilah baru yang dibutuhkan oleh negara baru yang hendak mengajar modernisasi dalam berbagai bidang.

Cita-cita terbesar Sutan Takdir Alisjahbana adalah menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar di Asia Tenggara. Namun, karena surutnya perkembangan bahasa Indonesia saat itu, Sutan Takdir Alisjahbana belum bisa mewujudkan cita-citanya.  Padahal, bahasa Melayu pernah dijadikan bahasa persatuan untuk penduduk di 13.000 pulau di Nusantara.

Penghargaan

Sutan Takdir Alisjahbana wafat tanggal 17 Juli 1994. Atas jasa-jasanya di bidang sastra, Sutan Takdir Alisjahbana mendapat beberapa penghargaan, sebagai berikut:

  1. Satyalencana Kebudayaan dari Pemerintah RI (1970)
  2. Honorary Member of The Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) dari Belanda (1976)
  3. Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari Universitas Indonesia (1979)
  4. The Order of the Sacred Treasure, Gold and Silver Star dari Kekaisaran Jepang (1987)
  5. Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari Universitas Sains Malaysia (1987)
  6. Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari School For Oriental And African Studies, London (1990)

Referensi:

  • Alisyahbana, Puti Balkis. (1996). Natal: Ranah nan Data. Jakarta: Dian Rakyat.(***)

No More Posts Available.

No more pages to load.