Pengertian Sampah Antariksa Serta Bahayanya bagi Lingkungan

oleh
Ilustrasi.

Jakarta, Borneo24.com Mulai awal era penjelajahan ruang angkasa pada tahun 1950-an, telah ada ribuan roket dan satelit yang diluncurkan ke orbit.

Saat ini, benda yang mengorbit Bumi adalah ribuan satelit mati bersama dengan puing-puing dari semua roket yang telah diluncurkan selama bertahun-tahun. Jika kondisi demikian terus terjadi, bukan tidak mungkin penjelajahan ruang angkasa menimbulkan masalah suatu hari nanti.

Sampah Antariksa

Sampah antariksa atau puing-puing ruang angkasa adalah setiap bagian dari mesin atau puing-puing yang ditinggalkan oleh manusia di ruang angkasa.

Sampah antariksa bisa merujuk pada objek besar seperti satelit mati yang gagal atau tertinggal di orbit pada akhir misinya.  Ini juga bisa merujuk pada hal-hal yang lebih kecil, seperti serpihan atau noda cat yang jatuh dari roket.

Meskipun ada sekitar 2.000 satelit aktif yang mengorbit Bumi saat ini, ada juga 3.000 satelit mati yang ada di ruang angkasa.  Terlebih lagi, ada sekitar 34.000 keping sampah antariksa yang berukuran lebih dari 10 sentimeter dan jutaan kepingan yang lebih kecil, yang bisa menjadi bencana jika menabrak benda-benda lainnya.

Kenapa Ada Sampah Antariksa?

Beberapa objek di orbit rendah dengan jarak beberapa ratus kilometer dapat kembali ke Bumi dengan cepat.

Mereka sering memasuki kembali atmosfer setelah beberapa tahun dan, sebagian besar, akan terbakar sehingga tidak mencapai tanah.

Tetapi, puing-puing atau satelit yang tertinggal di ketinggian 36.000 kilometer, ketika satelit komunikasi dan cuaca ditempatkan di orbit geostasioner, dapat terus mengelilingi Bumi selama ratusan atau bahkan ribuan tahun. Beberapa sampah antariksa dihasilkan dari tabrakan atau uji anti-satelit di orbit.  Ketika dua satelit bertabrakan, satelit tersebut dapat terpecah menjadi ribuan kepingan dan menciptakan banyak puing baru.

Bahaya Sampah antariksa

Kabar baiknya, saat ini, sampah antariksa tidak menimbulkan risiko besar bagi upaya eksplorasi ruang angkasa.

Bahaya terbesar yang ditimbulkan sampah antariksa adalah terhadap satelit lain di orbit. Satelit-satelit ini harus menghindar dari semua sampah antariksa yang masuk untuk memastikan mereka tidak tertabrak dan berpotensi rusak atau hancur.

Secara total, di semua satelit, ratusan manuver untuk menghindari tabrakan dilakukan setiap tahun, termasuk oleh Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Dilansir dari Earth.org, masalah sampah antariksa sebenarny tidak terbatas pada risiko yang ditimbulkan terhadap eksplorasi ruang angkasa.

Sebagian dari sampah antariksa di orbit rendah Bumi secara bertahap akan kehilangan ketinggian dan terbakar di atmosfer Bumi. Ping-puing yang lebih besar mungkin dapat berdampak pada Bumi dan memiliki efek merugikan pada lingkungan.

Misalnya, puing-puing dari roket Proton Rusia, yang diluncurkan dari kosmodrom Baikonur di Kazakhstan, mengotori wilayah Altai di Siberia timur. Ini termasuk puing-puing dari tangki bahan bakar tua yang mengandung residu bahan bakar yang sangat beracun, yakni dimethylhydrazine tidak simetris (UDMH), karsinogen yang berbahaya bagi tanaman dan hewan. (***)

No More Posts Available.

No more pages to load.