Angka Pengangguran Meningkat Pemerintah Sediakan ATM Beras, Saat Ini Hanya Tersedia di Beberapa Wilayah

oleh
ATM Beras

Jakarta, Borneo24.com – Sebanyak 10 ATM beras telah tersebar di beberapa tempat di Jakarta untuk memenuhi kebutuhan pangan warga tidak mampu yang kehilangan pekerjaan karena pandemi COVID-19.Bantuan beras ini telah dijatahkan sebanyak 1,5 Kilogram per orang.

Agus adalah seorang yang merasakan bantuan dari ATM beras ini “Saya sangat sedih karena ini bulan Ramadan, tapi kebutuhan kami malah bertambah.”

Agus mengaku ia menggunakan sisa tabungannya, yang disebutnya “jumlahnya juga tidak seberapa” agar bisa bertahan hidup, sembari mencari pekerjaan baru.

Agus merupakan salah satu dari ratusan orang yang sudah mendaftar untuk mengakses ATM beras di daerahnya.Pemerintah mengatakan mesin beras tersebut dapat menghasilkan beras sebanyak 1,5 ton per harinya untuk 1.000 orang.

“Alhamdulillah, saya sudah mendapatkan 1,5 kilogram beras gratis untuk bulan ini,” kata dia.”Cukup untuk saya, istri saya, dan kedua anak kami,” tambahnya.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan ATM beras akan beroperasi hingga dua bulan ke depan. Namun, Agus berharap agar Pemerintah dapat memperpanjang durasi program bantuan tersebut.

“Tidak ada jaminan bahwa saya dan warga lainnya akan mendapat pekerjaan bulan depan. Tentu saja akan lebih baik jika kami bisa terus mengakses bantuan ini sampai kami mendapatkan penghasilan kami kembali,” kata dia.

“Beras gratis ini sudah sangat membantu keluarga saya karena meringankan biaya belanja bulanan.”

Tidak hanya bagi para warga yang kehilangan pekerjaan. ATM ini juga telah beroperasi di Universitas Diponegoro, Semarang, bagi para mahasiswa yang dapat menerima 2 kilogram beras gratis setiap minggunya.

Subsidi beras di Indonesia sudah dilakukan sejak krisis moneter di Asia tahun 1998, melalui program Raskin atau Beras untuk Rumah Tangga Miskin.

“Pemerintah sudah berpengalaman dalam mengeluarkan bantuan pengamanan sosial. Jika Anda melihat dari bantuannya, sama seperti respon [Perdana Menteri Australia] Scott Morrison, saya dapat melihat kemiripannya [dari konteks Indonesia].”

Akibat kurangnya asupan gizi yang dipicu kemiskinan, jumlah anak-anak di Indonesia mengalami ‘stunting’, atau kondisi anak yang lebih pendek dari anak-anak seumurannya, setara dengan angka ‘stunting’ anak-anak di negara-negara Afrika Sub-Sahara.

Bank Dunia mengatakan Indonesia telah menurunkan angka kemiskinan sebanyak hampir setengah dari jumlah sebelumnya sejak 1999, namun 25 juta warga tetap hidup di bawah garis kemiskinan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani bulan lalu mengatakan jutaan warga kemungkinan akan jatuh miskin karena pandemi COVID-19.(***)

No More Posts Available.

No more pages to load.