Ini Kisah Manusia Misterius di Gunung Bukit Raya Kalimantan Barat

oleh
Ilustrasi Gambar

Kalimantan Barat, Borneo24.com – Pedalaman Kalimantan Barat banyak tempat yang perlu dijelajahi. Gunung Bukit Raya di Sintang punya cerita mitos manusia misterius. Gunung Bukit Raya merupakan salah satu Seven Summit Indonesia dimana menurut penuturan warga lokal terdapat mitos manusia purba ‘Uuud’ yang keberadaannya sangat misterius dan bersembunyi di balik rimbanya hutan Kalimantan.

Salah satu wisata menarik di Kalimantan Barat bagi pendaki gunung adalah Taman Nasional Bukit Raya Bukit Baka. Gunung dengan ketinggian 2.278 mdpl ini merupakan gunung tertinggi di Kalimantan dan satu di antara 7 (Seven) Summit Indonesia. Maka tidak heran jika banyak pendaki gunung Indonesia yang bermimpi untuk menaklukan gunung ini tak terkecuali wisatawan mancanegara.

Untuk menuju pintu masuk hutan Kalimantan, kita bisa melewati Desa Rantau Malam di Kabupaten Sintang. Yakni sebuah desa paling ujung dan terpencil di hulu Sungai Serawai. Untuk mencapai desa ini kita butuh waktu minimal 2 hari perjalanan. Saya berangkat dari Jakarta menuju Bandara Supadio Pontianak kemudian dilanjutkan dengan perjalanan darat menggunakan bus menuju Nanga Pinoh semalaman. Pagi harinya kami menggunakan jasa kapal motor membelah Sungai Melawi dan Serawai untuk menuju desa terakhir sekitar 7 jam perjalanan.

Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan khas sungai Kalimantan yakni pepohonan hijau yang rimbun dan beberapa satwa seperti burung elang, bangau, monyet ekor panjang, serta beragam aktivitas warga kampung adat di sepanjang bibir sungai. Ketika masuk wilayah sungai yang dangkal airnya, kapal motor yang kami tumpangi sempat oleng sehingga sopir menyarankan kepada kami agar beralih menggunakan perahu klotok yang terbuat dari kayu. Akhirnya kami menyewa perahu klotok dari warga setempat.

Saat tiba di Rantau Malam, warga desa menyambut kami dengan upacara adat Ngukuih Hajat. Ketua adat memimpin upacara adat dengan memotong seekor ayam. Ayam yang telah dipotong tadi kemudian dibagikan kepada kami untuk dimakan. Tak lupa kami menyempatkan diri untuk mengajar anak-anak Sekolah Dasar di desa tersebut dengan menyisipkan motivasi semangat belajar ke jenjang lebih tinggi meski harus menempuh jarak cukup jauh ke ibukota kecamatan. Bangunan di sekolah ini terbuat dari papan kayu yang bila diinjak akan berbunyi ‘ngik-ngik’.

Esok harinya, pagi-pagi buta kami bersiap menyusuri hutan Kalimantan. Daerah yang akan kami lewati selanjutnya hanya bisa diakses dengan jalan kaki yaitu Pos Pintu Rimba, Hulu Menyanoi, Sungai Mangan, Hulu Rabang, Linang dan Soa Badak. Di Soa Badak ini terdapat tugu perbatasan Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah sebelum melanjutkan perjalanan ke Puncak Kakam Bukit Raya.

Luar biasa indah, satwa liar di hutan Kalimantan ini begitu asri dan hampir tak tersentuh orang luar. Warga Desa Rantau Malam sangat menjaga hutan ini dengan tidak menebang pohon sembarangan dan berburu binatang langka. Kami menemukan pohon yang sangat besar yang kira-kira berdiameter lingkaran tangan beberapa orang dewasa. Selain itu keberadaan mitos Manusia Purba Uuud yang hidup di pelosok Kalimantan membuat warga enggan untuk merusak alam. Uuud yang dikenal warga selama ini digambarkan sebagai manusia setinggi 2 meter jalannya sangat cepat, misterius, menghindari kontak langsung dengan manusia modern, dan biasanya keluar ketika hari mulai gelap. Adapun larangan lainnya untuk warga adalah dilarang membunuh Kelempiau atau monyet ekor panjang sehingga dengan larangan ini sekaligus dapat menjaga alam tetap lestari.

Saat di Soa Badak, seorang teman kami mengalami gejala hypothermia dan masuk angin. Semalaman dia hanya merintih dan mengigau, seolah tak sanggup melanjutkan perjalanan lagi. Padahal Puncak Kakam sedikit lagi terlihat. Terpaksa kami bermalam satu malam di Soa Badak sambil menggigil kedinginan karena seharian diguyur hujan.  Beruntung setiap saya melakukan perjalanan ekspedisi, tidak lupa untuk membawa obat dan saya berikan juga kepada seorang teman yang masuk angin sehingga esok harinya bugar kembali dan bisa melanjutkan perjalanan ke Puncak Kakam.

Esok harinya rombongan langsung sehat kembali dan dapat melanjutkan ke puncak tertinggi Kalimantan, Puncak Kakam Bukit Raya. Dari sini kami bisa melihat betapa elok dan hijaunya hutan Kalimantan sejauh mata memandang. Dan yang menarik lagi di puncak ini, kita bisa menemukan tempat sesembahan warga lokal yang masih percaya dengan penunggu gunung. Banyak warga lokal yang masih meminta pada roh halus agar terpenuhi hajatnya.

Adapun bentuk tempat sesembahan itu seperti rumah-rumahan kecil yang disangga dengan batang kayu. Di sekitarnya terdapat patung kayu dilengkapi manik-manik. Menyenangkan sekali di setiap perjalanan menjelajah hutan belantara Kalimantan ini. Terlebih warga lokal yang menemani kami bercerita banyak tentang adat dan istiadat serta mitos-mitos yang menyelemuti kawasan hutan ini sehingga menambah wawasan yang menarik. (***)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.