Warisan Tjilik Riwut

Sosok Tjilik merupakan gambaran ideal seorang pejuang. Ia kuat secara fisik, gemar mengembara seantero Kalimantan.

Feb 2, 2024 - 21:54
 0  136
Warisan Tjilik Riwut

Hari ini 106 tahun yang lalu, 2 Februari 1918, Tjilik Riwut dilahirkan di Desa Kasongan, yang saat ini menjadi ibukota Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Tjilik kemudian dikenang sebagai tokoh politik yang mengangkat nama Dayak ke dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke level nasional. 

Ia bersama tokoh dan cendekia muda Dayak memberikan dukungan berarti bagi bayi Republik yang kekuasaannya di luar Pulau Jawa dipreteli oleh Belanda. Melalui ritus Dayak Ngaju di hadapan Bung Karno di depan Gedung Agung, Yogakarta yang kala itu menjadi ibu kota Indonesia, Tjilik dan sejumlah pemuda Dayak lainnya menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.Untuk sampai ke Jawa sebagai tokoh yang merepresentasikan orang Kalimantan, tentu tak mudah bagi pemuda yang muncul dari pedalaman Kalimantan saat itu. Tapi Tjilik sanggup melakukannya, hingga ia terlibat dalam perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan RI.

Sosok Tjilik merupakan gambaran ideal seorang pejuang. Ia kuat secara fisik, gemar mengembara seantero Kalimantan

Itu menjadi modal penting baginya menjadi tentara rakyat di awal republik berdiri. Tak heran kemudian, sebagai perwira berpangkat mayor, ia ditunjuk menjadi komandan Pasukan MN1001. Pasukan ini merupakan ekspedisi penerjunan pertama tentara RI di Kalimantan. 

Setelah, penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Indonesia, Tjilik tak meneruskan kiprah militernya yang sudah sampai perwira menengah. Ia kemudian memilih menjadi politisi sipil. Pernah menjadi Bupati Kepala Daerah Kotawaringin, yang beribu kota di Sampit. Ia kemudian menjadi salah satu tokoh penting di balik berdirinya Provinsi Kalimantan Tengah. Ia lantas menjadi gubernur definitif pertama Bumi Tambun Bungai ini. 

Sebagai gubernur pertama, ia yang memimpin pembukaan kampung Pahandut, menjadi ibukota Kalimantan Tengah yang kemudian dinamakan Palangka Raya. Tugu ibukota baru ini diresmikan dengan kedatangan Sukarno, Presiden Pertama Indonesia. Setelah era Sukarno, Tjilik yang memang salah seorang sahabat dan Sukarnois, tidak lagi menjabat di posisi eksekutif pemerintahan. Meski begitu Tjilik tetap disegani sebagai pendiri Kalimantan Tengah, dan tokoh Masyarakat Dayak.

Semua portofolio itu murni milik sosok Tjilik Riwut semata. Kita mungkin hanya bisa mengaguminya sambil menikmati beberapa warisian (legacy-nya) yang bersifat fisik: Kota Palangka Raya dan Provinsi Kalimantan Tengah. Namun yang jarang dibicarakan tapi justru tetap penting dan relevan adalah warisan Tjilik riwut yang berupa tulisan-tulisan.

Tjilik meninggalkan banyak tulisan yang terangkum pada sejumlah buku. Kesadaran dan kemampuan menulis ini, tumbuh saat Tjilik belum berkiprah secara militer dan politik.

Sebelum pergi ke Jawa, Tjilik sudah mendapatkan pendidikan modern Barat di kampung halamannya. Ia mengenyam sekolah dasar di Vervolu School Zending di Kasongan. Orangtuanya bahkan menitipkan dirinya untuk tinggal di keluarga pendeta yang datang dari Eropa. 

Zending ini pula, yang kemudian memfasilitasi Tjilik merantau ke Jawa. Menurut PM Laksono, dkk., dalam buku Pergulatan Identitas Dayak dan Indonesia: Belajar dari Tjilik Riwut Tjilik melanjutkan ke sekolah perawat di Banyu Asih, Purwakarta, Jawa Barat, pada 1936. Sampai di Jawa, Tjilik entah bagaimana kemudian tertarik dengan aktivitas jurnalistik. Awalnya ketertarikan itu muncul karena ia saban hari mengamati aktivitas loper koran. Kemudian ia belajar menjadi jurnalis pada tokoh tokoh pergerakan nasional, Sanusi Pane dan M Tabrani.

Tjilik Riwut kemudian menggunakan tulisan sebagai senjata untuk berjuang, baik untuk kemerdekaan Indonesia, maupun memperjuangkan martabat etnis Dayak, yang merupakan alam kebudayaan yang telah melahirkannya. 

Salah satu artikelnya yang menggugah orang Dayak ditulis saat ia berusia 21 tahun di Soeara Pakat. Media ini terbitan organisasi Pakat Dajak. Artikel itu berjudul Kamiar Oetoes Itah Dajak Hong 100 Njelo (Kemajuan Suku Dayak dalam 100 Tahun). Dalam tulisan itu ia menggugat ketertinggalan suku Dayak dalam bidang pendidikan. Perspektifnya sangat modernis, ia percaya pendidikan adalah gerbang untuk meninggikan derajat orang Dayak.

Ia menggugat sikap orang Dayak kebanyakan pada saat itu, yang menurutnya berpandangan seperti ini: “Apa guna kalian masuk sekolah tinggi-tinggi, sekolah Belanda, menjadi orang berpangkat karena sudah cukup bagi kalian jika sudah bisa mengenal huruf, bisa membaca dan menulis karena nantinya kalian juga harus bertani mengolah tanah di antara hutan lebat.” (PM Laksono, dkk., hal 97).

Tema serupa ia tulis pada artikel-artikel lainnya. Pada intinya ia menyimpulkan orang Dayak kesulitan mengakses sekolah karena sedikitnya jumlah sekolah, mahalnya biaya, dan karena faktor para orangtua yang keberatan melepas anaknya bersekolah jauh dari kampung halaman. Ia juga mempersoalkan sikap yang menganggap pendidikan tidak terlalu diperlukan bagi kaum perempuan. 

Pada masa pendudukan Jepang, Tjilik bekerja pada Borneo Minseiboe Tjokan, mengasisteni Prof K Uyehara di bagian penyelidik adat dan kebudayaan Kalimantan. Banyak artikel yang berhasil ia tulis, lahir dari hasil kerjanya itu. Dari soal adat-istiadat, hukum adat, makanan Dayak, dan berbagai monogarfi daerah-daerah di Kalimantan. Beberapa artikelnya di era Jepang, kerap muncul di koran Borneo Simboen.

Pengalaman menjadi penulis di media massa dan bekerja untuk Jepang itu menghasilkan banyak data yang kelak, di era setelah perginya Belanda, menjadi bahan Tjilik menerbitkan buku-bukunya. Karya-karya utama Tjilik antara lain, Sedjarah Kalimantan (1952), Agama Kaharingan (1953), Kalimantan Memanggil (1958), Kalimantan Membangun Alam dan Kebudayaan (1979), hingga Maneser Panatau Tatu Hiang yang diterbitkan setelah ia jauh meninggal dunia.

Tjilik pencatat dan pendokumentasi pustaka yang cukup baik. Dari sinilah lahir karya yang luar biasa, Kronik Kalimantan, yang terbit dalam tiga jilid buku. Kronik Kalimantan disunting oleh anak Tjilik, yaitu Nila Riwut. 

Orang boleh berdebat soal pemikiran dan kemampuan intelektual Tjili Riwut. Tetapi banyaknya catatan dan buku karyanya itu merupakan warisan penting bagi generasi Kalimantan berikutnya. Ini menjadi bahan berarti bagi mereka yang ingin memahami sejarah dan budaya Dayak dan Kalimantan.  

Kita beruntung punya tokoh, pejuang, pahlawan yang gemar menulis, bukan menulis otobiografi untuk mengglorifikasi perannya sendiri, seperti kebanyakan politisi saat ini. 

Budi Baskoro

(Jurnalis , Penyuka Sejarah, tinggal di Pangkalan Bun)