Pemprov Kaltim Tingkatkan Produksi Kepiting Bakau

oleh
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) berupaya Meningkatkan Produksi Kepiting Bakau Di Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara Lewat Pelatihan Budidaya.

Kalimantan Timur, Borneo24.com Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) berupaya meningkatkan produksi kepiting bakau di Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, lewat pelatihan budi daya dengan pola teknologi tepat guna, karena pasar ekspor kepiting masih terbuka.”

“Kecamatan Anggana merupakan kawasan penghasil kepiting bakau dan sudah merambah pasar ekspor,” ujar Penggerak Swadaya Masyarakat Ahli Muda Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Provinsi Kaltim Helvin Syahruddin.

Meski Kecamatan Anggana mampu mengekspor kepiting hingga ke Singapura, Hong Kong, Jepang, dan Australia, namun pelaku pembudaya masih belum mampu memenuhi tingginya permintaan pasar dari empat negara tersebut.

Di antara kendalanya adalah kualitas, ukuran minimal 12 cm, dan terkadang kuantitasnya tidak mencukupi karena pola budi daya yang belum masif, sehingga pelatihan budi daya kepiting ini bertujuan untuk memenuhi syarat pasar ekspor tersebut.

Kecamatan Anggana pada 2021 mengekspor kepiting bakau sebanyak 1.800 ton ke berbagai negara, sehingga hal ini menjadi peluang besar bagi warga setempat untuk terus mengembangkan, seiring masih tingginya permintaan pasar.

Ekspor kepiting bakau dari Anggana ke sejumlah negara tujuan tersebut sempat anjlok pada 2020 akibat badai COVID-19, apalagi kala itu juga sempat ada isu bahwa virus COVID-19 bisa menular melalui ikan dan kepiting yang dikirim antarnegara, sehingga makin lengkap pelemahan ekspor komoditas kepiting.

Di tahun 2020, ekspor kepiting bakau dari Anggana hanya 195 ton, namun tahun 2021 naik menjadi 1.800 ton, pembudidaya bersama nelayan dan eksportir kepiting bangkit dari keterpurukan, sedangkan ekspor kepiting pada Januari-Agustus 2022 baru tercatat 895 ton.

Melalui pelatihan budi daya kepiting bakau yang dikemas Workshop TTG selama tujuh hari mulai 7-13 November ini, maka masyarakat bisa lebih meningkatkan produktivitas kepiting, karena tidak hanya budi daya di tambak dan mengambil dari alam atau dari hutan bakau, tapi budi daya dengan cara modern.

“Budi daya secara modern ini adalah sistem hidroponik, yakni sistem budi daya kepiting yang bisa dilakukan di ruang terbatas sekalipun, baik di ruang terbuka maupun ruang tertutup. Melalui sistem ini, maka kualitas dan ukuran bisa diatur dan dilakukan secara berkelanjutan,” ucap Helvin. (***)

No More Posts Available.

No more pages to load.