Pasokan Osigen untuk RS di Perbatasan Kaltara Sulit Dicari

oleh
Ilustrasi Gambar.

Kalimantan Utara, Borneo24.com – Dua mobil single cabin dan sebuah ambulans milik rumah sakit tetap memanaskan mesinnya di daerah Juata Laut, Tarakan. Mereka menunggu tabung oksigen yang dibawa terisi penuh. Pabrik pengisian oksigen itu bisa ditempuh 40 menit perjalanan darat dari pusat kota untuk memenuhi pasokan oksigen yang dibutuhka

PT Tarakan Estetika Plaza, di Juata Laut mampu memproduksi 250-300 tabung, berkapasitas enam meter kubik. Hasilnya, dibagi ke sejumlah rumah sakit yang ada di kota Tarakan dan sekitarnya.

“Mesin kami tak pernah tidur,” ujar Yulius Kwan, pemilik pabrik dikutip dari suara pada Minggu (8/8/2021).

Ketika tim Kantor Staf Presiden (KSP) mendatangi pabrik itu, Yulius Kwan terlihat berbincang serius dengan pegawai RS Bhayangkara, yang sedang menunggu pengisian tabung. Selain RS Bhayangkara Tarakan, sejumlah rumah sakit lain turut antre di pabrik pengisian oksigen terbesar di Tarakan ini.

“Memang di Tarakan hanya ada satu pabrik yang berukuran agak besar di Juata Laut. Itupun belum mencukupi kebutuhan kami,” ujar dr. Franky Sientoro Sp.A, Plt Dirut RSUD Tarakan.

Karena kebutuhan yang tinggi, PT Tarakan Estetika kemudian mengubah peruntukan suplai oksigennya ke medis. Padahal sebelum pandemi, kebutuhan oksigen mayoritas untuk konsumsi industri dan perikanan tambak.

“Kami mengapresiasi perusahaan yang mau menyesuaikan orientasi bisnisnya untuk kemanusiaan. Karena memang kebutuhan oksigen di Tarakan dan Nunukan melonjak karena penularan cepat varian delta ini,” ujar Agung Rulianto, Tenaga Ahli Utama KSP.

Selain RSUD Tarakan, rumah sakit yang turut antre oksigen di pabrik itu ialah: RSU Kota Tarakan, RS Pertamedika, RS Bhayangkara dan RS Angkatan Laut. Bahkan RSUD Nunukan di seberang pulau pun turut mengambil nomor antrean.

“Kami mendapatkan antrean kelima,” ujar dr. Dulman L, SpOG, Dirut RSUD Nunukan.

Meningkatnya jumlah pasien Covid-19 di Kota Tarakan membuat Dokter Franky dan para tenaga kesehatan (Nakes) kewalahan. Maklum saja, RSUD Tarakan jadi rumah sakit rujukan di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara).

Franky berkisah, sejak varian Delta mulai menyerang pada tengah Juni tahun ini, kebutuhan oksigen di rumah sakitnya bisa mencapai 300 tabung. Hitungan angka riil Franky, sehari kebutuhan oksigen bisa mencapai lebih dari 700 tabung besar atau 6m3.

“Jadi yang dari Juata tidak mencukupi. Kami dapat bantuan juga dari Pupuk Kaltim,” ujar Franky yang juga Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Provinsi Kaltara ini.

Kekurangan pasokan oksigen membuat Dokter Franky dan Dokter Dulman bersiasat. Franky menyebut, dia membuat skala prioritas untuk pasien yang kena Covid-19.

“Mau gak mau harus ngirit,” tambahnya.

Meningkatnya kebutuhan oksigen di Tarakan memang terkait dengan meningkatnya penularan Covid-19 di Bumi Paguntaka ini. RSUD Tarakan menyediakan 400 bangsal untuk pasien Covid dan Non Covid. Untuk para penyintas Covid-19 disediakan 120 bed

“Angka keterisian mencapai 87 persen atau 97 pasien,” ungkapnya.

Keterbatasan pasokan oksigen juga membuat Franky mengambil keputusan untuk merawat pasien Covid-19 dengan skala sedang, berat hingga kritis saja.

“Mereka yang dengan gejala ringan biar isoman di rumah saja,” tambahnya.

Dokter Dulman dan Dokter Franky menyarankan agar warga di perbatasan tetap patuh pada protokol kesehatan. Selain itu kunci lepas dari pandemi adalah vaksinasi. Hingga pekan ini, vaksinasi di Kota Tarakan baru mencapai sekitar 16 persen penduduk. Sedangkan yang masuk daftar tunggu penerima vaksin mencapai 14 ribu orang.

“Kami masih menunggu vaksin datang,” sambung Franky.

Ia berharap jika program vaksinasi sukses dijalankan di Kota Tarakan, maka akan tercipta herd immunity atau kekebalan komunal.

“Jika begitu, kota Tarakan bisa bebas dari pandemi,” lanjutnya.

Upaya mengatasi keterbatasan oksigen dan vaksin terus dilakukan oleh pemerintah. Termasuk mencari sumber-sumber lain yang bisa menyediakan pasokan oksigen. Seperti yang dilakukan BUMN PT Pupuk Kaltim.

“Temuan ini sangat penting bagi kami. KSP memahami situasi yang dihadapi di sini dan kami mendukung upaya penguatan penanganan Covid-19 di perbatasan,” ujar Tenaga Ahli Utama KSP, Agung Rulianto. (***)

No More Posts Available.

No more pages to load.