Bayi di Nanga Bulik Terkena Hidrosefalus, Perlu Uluran Tangan

oleh
Bayi Arsi Penderita Hidrosefalus

Nanga Bulik, Borneo24.com – Sungguh malang apa yang dialami oleh seorang bayi bernama Muhammad Syauqi Ananda Arsi, dipanggil Arsi ini. Bayi sekecil ini harus menanggung beban terkena penyakit Hidrosefalus.

Akibat penyakit tersebut, kedua orangtuanya hanya mengandalkan BPJS untuk pengobatan bagi bayi malang itu.

Akibat penyakit yang dideritanya itu, sang bayi mungil tersebut sering terdengar merengek menangis menahan beban derita penyakitnya itu.

Kepala sang bayi ini terus membesar hingga kurang lebih 55 cm, kondisi itu tidak sebanding dengan badannya yang mungil. Sehingga akibat pembesaran kepalanya itu, membuat ruang geraknya menjadi terbatas.

Usia sang bayi malang itu sekitar 4 bulan. Karena penyakit yang dideritanya itu, saat ini hanya bisa terbaring lemas diatas pembaringan.

Nampak pula dari wajah kedua orang tuanya itu terlihat sedih, namun mereka nampak menyembunyikan kesedihan itu. Terlihat, mereka berusaha tetap tersenyum, walaupun anaknya mengalami penyakit Hidrosefalus itu.

Arsi, bayi mungil yang terserang penyakit Hidrosefalus tersebut merupakan anak kedua dari pasangan Arbai (30 Tahun) dan Susilawati (28 Tahun). Pasangan ini berasal dari Desa Sungai Mentawa, Kecamatan Bulik, kabupaten setempat.

Dijelaskan si ibu bayi, Susilawati, penyakit yang menyerang buah hatinya tersebut akibat terjadinya penumpukan cairan di dalam rongga otak yang ditandai dengan pembesaran kepala pada bayi.

Kelebihan cairan itu dapat menekan otak, sehingga otak mengalami kerusakan. Kondisi ini paling sering terjadi pada bayi dan orang berusia lanjut. Penyakit ini sebenarnya telah terdeteksi sejak usia Arsi 5 bulan dalam kandungan.

Namun, selain mengidap hidrocefalus, bayi mungil ini juga mengidap gangguan pencernaan. Ganguan pencernaan tersebut lantaran ada saraf usus yang tidak berfungsi secara maksimal, dan mengakibatkan tidak bisa Buang Air Besar (BAB) secara normal.

“Sehingga untuk sementara dibuatkan kesamping di bagian perut untuk BAB nya, kata dokter nanti tunggu usia Arsi 6 bulan baru bisa diproses,” ucap Susilawati

Diungkapkan Susilawati, sebulan yang lalu mereka ingin berangkat minta rujukan dari RSUD Lamandau ke RSUD Imanudin Pangkalan Bun, tapi kendala banjir membuat bayi Arsi tidak bisa keluar dari desa.

Mereka mengaku, untuk pengobatan Arsi saat ini hanya mengandalkan dari BPJS yang dia dapatkan dari pemerintah dan suaminya yang bekerja sebagai security di salah satu perkebunan kelapa sawit.

“Dulu waktu kondisi Arsi pasca melahirkan sudah lumayan stabil, RSUD menganjurkan harus dibawa ke semarang untuk penanganan lebih lanjut, tapi terpaksa tertunda karen ada wabah pandemi Covid – 19, dan akhirnya Arsi hanya bisa dibawa pulang kerumah saja,” jelas dia.

Kabar adanya seorang bayi mungil yang mengidap penyakit Hidrosefalus banyak mengetuk warga Lamandau untuk memberikan bantuan. Baik melalui Karang Taruna maupun Relawan Peduli Lamandau (Rapela).

Upaya yang mereka lakukan adalah penggalangan dana untuk membantu biaya perjalanan dan akomodasi selama masa pengobatan nanti.

Karena rencananya pekan depan mereka akan mulai mengurus ulang rujukan untuk pengobatan ke pulau Jawa.

“Benar, kami sudah beberapa kali melakukan survei. pihak keluarga berharap uluran tangan masyarakat untuk membantu pengobatan dedek Arsi. Dan kami dari Rapela siap untuk membantu, baik penggalangan dana melalui medsos maupun ke jalan,” ungkap Kurnia dari tim Relawan Peduli Lamandau.

Terpisah, ketua Karang Taruna kabupaten, Didik Hermanto juga mengungkapkan bahwa pihaknya pun turut menggalang bantuan ke sejumlah SOPD di Kabupaten Nanga Bulik, di Lamandau.

“Sehingga bantuan dari sejumlah pihak ini, nantinya bisa meringankan beban biaya berobat,” demikian pungkasnya. (***)

No More Posts Available.

No more pages to load.