Implementasi Program Ekonomi Biru, KKP Lestarikan Ikan Endemik di Waduk Jatibarang

oleh
Penebaran Benih Ikan Lokal di Waduk Jatibarang.

Jakarta, Borneo24.comKementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berupaya melestarikan ikan endemik Indonesia, termasuk di  Waduk Jatibarang, Jawa Tengah. Selain sebagai implementasi program ekonomi biru untuk budidaya berkelanjutan, hal ini dimaksudkan untuk menjaga populasi ikan endemik dari kepunahan, sekaligus menjamin ketahanan pangan dan kebutuhan protein.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Tb Haeru Rahayu mengatakan Waduk Jatibarang sebagai perairan umum yang memegang peranan penting dalam menghasilkan komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi dan juga disukai masyarakat. Salah satu manfaat pengelolaan perairan umum adalah menjaga keberlanjutan ekosistem waduk.

Atas dasar itulah, tebar benih ikan lokal dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi di Waduk Jatibarang  sebanyak 150 ribu ekor, yang terdiri dari benih ikan nilem, ikan tawes dan ikan wader.

Tebe – sapaan akrab Tb Haeru Rahayu mengatakan kegiatan tebar benih ikan tersebut sangat bermanfaat untuk menjaga populasi ikan dan mencegah dari kepunahan komoditas bernilai ekonomis tinggi.

Kegiatan tebar benih ikan di Waduk Jatibarang tentunya sejalan dengan 5 (lima) program utama berbasis ekonomi biru yang diusung oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Bapak Sakti Wahyu Trenggono. 

Tebe menambahkan melalui kegiatan tebar benih ikan di perairan umum, tentunya menyampaikan pesan bahwa pengembangan budidaya berkelanjutan berbasis pada ekonomi  dapat menyeimbangkan antara kepentingan ekologi, ekonomi dan manfaat sosial bagi masyarakat.

“Manfaat dari kegiatan tebar benih ikan hasil budidaya di perairan umum tentunya selain melestarikan keanekaragaman sumberdaya ikan di perairan umum, nantinya dapat juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar perairan umum tersebut, serta menjamin ketahanan pangan dan memenuhi kebutuhan protein di masa depan,” ungkap Tebe.

Kegiatan tebar benih ikan lokal di perairan umum dapat menjaga kepunahan komoditas ikan lokal bernilai ekonomis tinggi. Beberapa Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Ditjen Perikanan budidaya yang fokus mengembangkan ikan-ikan lokal asli Indonesia antara lain Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam, dan Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin.

Beberapa ikan lokal yang dikembangkan seperti tawes, nilem, jelawat, gabus, betok, belida dan wader. “Pengembangan perikanan budidaya berbasiskan ekonomi biru selain menjaga kepunahan komoditas ikan lokal bernilai ekonomis tinggi, tentunya didorong untuk menghadapi pertumbuhan populasi penduduk dan kebutuhan protein,”ujar Tebe.

Mengutip dari data FAO yang memprediksi kebutuhan protein dunia akan meningkat hingga 70%, dikarenakan lonjakan pertumbuhan populasi dunia hingga tahun 2050. Sementara protein ikan memberikan kontribusi terbesar dalam kelompok sumber protein hewani.  

Target tahun 2022 distribusi BBPBAT Sukabumi untuk ikan nilem 2 juta ekor benih, ikan tawes 193.931 ekor benih, ikan baung 600 ribu ekor benih, dan udang Galah 1,5 juta ekor benih.

Capaian yang luar biasa dari BBPBAT Sukabumi mampu memproduksi beberapa komoditas ikan lokal  melebihi dari target produksi. Hingga bulan Agustus 2022, BBPBAT Sukabumi sudah menyalurkan bantuan stimulan benih ikan lokal dan penebaran di perairan umum sebanyak 2.320.000 ekor benih ikan nilem atau tercapai 116 %; 271.000 ekor benih ikan tawes atau tercapai

139 %; 450.625 ekor benih ikan baung atau tercapai 75 %; dan 800.000 ekor benih udang galah atau tercapai 53 %.

“Bantuan stimulan benih ikan lokal untuk kelompok pembudidaya ikan dan restocking di perairan umum telah kami distribusikan ke Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, dan Bali,” kata Nando.

No More Posts Available.

No more pages to load.