Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan Jalankan Program Revitalisasi Bahasa Daerah

oleh
Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan Jalankan Program Revitalisasi Bahasa Daerah.

Sulawesi Selatan, Borneo24.com Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) melakukan revitalisasi bahasa daerah.

Pentingnya kebijakan Merdeka Belajar Episode ke-17 ini dilakukan oleh seluruh pemangku kebijakan adalah terutama adalah agar para penutur muda dapat menjadi penutur aktif bahasa daerah. Dengan demikian, pada gilirannya mereka memiliki kemauan dan semangat untuk mempelajari bahasa daerah melalui media yang mereka sukai.

Selain itu, revitalisasi Bahasa daerah juga bertujuan untuk 1) menjaga kelangsungan hidup bahasa dan sastra daerah, 2) menciptakan ruang kreativitas dan kemerdekaan bagi para penutur bahasa daerah untuk mempertahankan bahasanya, serta 3) menemukan fungsi dan ranah baru dari sebuah bahasa dan sastra daerah.

Dalam upaya merevitalisasi bahasa daerah tersebut, Kemendikbudristek melakukan beberapa strategi seperti:

1) melibatkan setiap elemen pemangku kepentingan;

2) melaksanakan revitalisasi bahasa daerah yang terintergrasi dengan lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat; mengoptimalkan pemanfaatan media digital; serta

3) memberi fleksibilitas bagi tiap daerah untuk mengimplementasikan program revitalisasi bahasa daerah sesuai karakteristik wilayahnya.

Menyambut kebijakan Merdeka Belajar Episode ke-17: Revitalisasi Bahasa Daerah tersebut, Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, Yani Paryono menyampaikan dukungannya.

Pihaknya melakukan evaluasi pelaksanaan Revitalisasi Bahasa Daerah (Bugis, Makassar, dan Toraja) Model B tahun 2021 untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan pelaksanaan kegiatan tahun 2021. “Kelemahan-kelemahan tahun lalu kita jadikan acuan untuk bahan perbaikan dalam pelaksanaan tahun 2022,” ujarnya.

Pelaksanaan kegiatan Revitalisasi Bahasa Daerah di Sulawesi Selatan yang menjadi program prioritas Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemdikbudristek sangat  relevan  dengan Peraturan Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 19 Tahun 2018 tentang Pembinaan Bahasa Daerah.

Dalam Pasal 10 dinyatakan bahwa bahasa daerah wajib diajarkan dua jam pelajaran per minggu. Berikutnya pada pasal 11 disebutkan bahwa kewajiban berbahasa daerah setiap hari Rabu sesuai dengan dialek masing-masing di sekolah.

Sasaran revitalisasi tersebut adalah komunitas turur, guru, kepala sekolah, pengawas, dan siswa yang berbahasa daerah Makassar, Bugis, dan Toraja. Adapun Sulawesi Selatan melakukan revitalisasi bahasa daerah menggunakan Model B. Dengan pertimbangan bahwa di Sulawesi Selatan daya hidup bahasa daerah digolongkan dengan kategori rentan; jumlah penutur Bahasa daerah relatif banyak; bahasa daerah Makassar, Bugis, dan Toraja dipakai secara berdampingan atau bersaing.

Kegiatan Revitalisasi Bahasa Daerah Bugis, Makassar, dan Toraja dilaksanakan berkolaborasi dengan Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan dan pemda dengan tahapan sebagai berikut koordinasi, pelatihan guru master/utama, pelatihan guru MGMP/KKG, pelaksanaan pemelajaran di kelas, pemantauan, FTBI tingkat kabupaten/kota, FTBI provinsi, dan selebrasi FTBI tingkat nasional. (***)

No More Posts Available.

No more pages to load.