Ini Alasan Tradisi Adat Pernikahan Suku Dayak, Batal Jika Syarat Tak Lengkap

oleh
Ilustrasi Gambar

Borneo24.com – Seperti lazimnya pernikahan dengan menggunakan adat, suku Dayak di Kalimantan juga memiliki tradisi yang diturunkan dari para leluhurnya. Banyak ragamnya tergantung sub suku Dayak yang menggunakan, yang paling banyak adalah suku Dayak Ngaju. Pernikahan bisa dibatalkan jika salah satu syarat tidak terpenuhi.

“Itu ada sub suku lagi ada 405 tapi di Kalteng yang terbesar adalah suku Dayak Ngaju jadi ini yang biasa digunakan untuk pernikahan,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kalimantan Tengah, Leonard Samuel Ampung saat ditemui di acara Festival Pesona Budaya Borneo 2017 di Halaman Keong Mas, Taman Mini Indonesia Indah. Selain pernikahan yang menggunakan proses adat, ada seperti untuk acara kematian, kelahiran, bangun rumah, memasuki rumah baru.

“Ada juga acara acara ucapan syukur memuai bertani memulai membuka lahan baru ya kan ini juga harus melalui proses adat,” kata Leonard. Lanjut Leonard, jika proses adat pernikahan seperti contohnya memanggul, kemudian melamar. Setiap tahapan dalam melangsungkan pernikahan ada yang mengatur yakni ketua adat. “Ada itu yang namanya Basir yang mengatur sebagai ketua adat kita, Damang kita istilahnya itu yang mengatur adat istiadat kita itu,” kata Leonard. ¬†Setiap tahapan, lanjut dia, memiliki aturan mainnya dan syarat-syaratnya semua diatur oleh Basir kepala adat.

“Iya itu saling menanya kalau syarat-syaratnya terpenuhi jalan dia, kalau tidak terpenuhi batal dia,” lanjut Leonard. Selain pernikahan, suku Dayak juga dikenal melalui ragam tarian maupun rumah adatnya. “Dari uniknya, tariannya atraktif, energik, kemudian dari sisi warna. Dia warna mencolok ada putih, ada hitam, ada hijau, ada merah, ada kuning. Itu warna Dayak. Cuma lima ya,” jelas Leonard. Ia menerangkan jika Suku Dayak aslinya memiliki lima warna, jika selain dari warna kelima itu adalah bentuk modifikasi Suku Dayak. Ia pun tidak bisa menjelaskan arti dari kelima warna itu, tetapi tegasnya jika kelima warna itu memiliki artinya semua, yang itu menjadi ciri khas tersendiri.

Selain itu, ia menambahkan jika ciri khas lain Suku Dayak yaitu rumah Betang Dayak. Rumah yang bentuknya panjang. Ia mengatakan jika dalam rumah itu terdapat sebuah kebersamaan dan kesetaraan, serta gotong-royong.

Leonard menceritakan jika dalam rumah Betang Dayak itu didiami oleh beberapa keluarga, di mana terdapat keunikan jika di dalam rumah itu terdapat penganut agama lain, seperti yang muslim, ada Kristen, hingga agama yang dahulu yaitu Hindu Kaharingan.

Ia pun juga mencontohkan dalam keluarganya sendiri. “Saya ini, adiknya saya muslim, juga ada yang agama dulu. Satu keluarga, tapi hidup kita berdampingan rukun harmonis,” jelas Leonard. Namun Leonard mengatakan, jika akhir-akhir ini banyak dari masyarakat yang bukan asli Suku Dayak datang ke sana, dan itu membuat adanya perbedaan. “Akhir-akhir ini memang banyak lah yang dari luar masuk, itu yang bikin tanda petik bikin sesuatu adanya perbedaan-perbedaan,” jelas Leonard.

Namun Leonard menyampaikan, jika aslinya mereka tetap bersatu, karena dalam filosofinya rumah Betang Dayak. “Pada aslinya kita tetap satu, karena filosofi betang, rumah panjang tadi kelihatan. Kebersamaan itu di campur, enggak ada istilahnya enggak boleh berdampingan dengan ini, misalnya haram,” kata Leonard.

Leonard menyampaikan jika itu sebagai adat istiadat dari Suku Dayak nenek moyang turun temurun. Itu Kebersamaan sudah didapat, keharmonisan sudah didapat oleh masyarakat Dayak. Suku Dayak tetap menghargai pendatang. (***)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.