Terisolir, Warga Desa Simpur Hanya Menggunakan Jasa Fery Sebagai Penyebrangan

oleh

Pulang Pisau – Desa Simpur, Kecamatan Jabiren Raya, bisa dibilang salah satu Desa yang masih tergolong Desa Terisolir, kenapa bisa? Karena letak Desanya berada di seberang Sungai Kahayan. Pasalnya di Desa itu satu-satunya moda transportasi menggunakan jasa fery penyebrangan orang dan barang maupun sepeda motor.

Untuk menjangkau ke Desa lain atau ke Ibu Kota Kecamatan saja, masyarakat di Desa itu, terpaksa harus menggunakan alat penyebrangan yakni mengunakan Kapal Fery (perahu kapal) penyebrangan Motor dan Orang, hal itu menjadi salah satu alat warga simpur yang ingin bepergian baik menuju ke Kota Palangkaraya atau pun ke Banjarmasin.

Saat Reporter Borneo24 mencoba ke Desa itu, keberadaan Fery Penyebrangan itu sangat penting untuk urat nadi masyarakat, apa lagi mendekati Puasa Ramadhan dan bahkan menjelang Hari Raya Idul Fitri kedepan, maka keberadaan Fery tersebut sangat dibutuhkan oleh warga desa setempat.

Leres salah seorang motoris kapal Fery penyebrangan, Jumat (3/5/2019) mengatakan, jumlah fery di desa simpur sekarang ini berjumlah 2 kapal, dan kapal Fery yang ia gunakan itu adalah milik Desa, dan di kelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa).

” Ini milik BUMDesa pak, dan saya cuma menjalankan dan bagi hasil saja,” beber Leres menjelaskan.

Terkait keberadaan Fery ini, Kepala Desa Simpur Ager menjelaskan, jumlah penduduk Simpur sekarang ini lebih kurang 500 jiwa dan keberadaan Desa itu diakuinya masih terisolir, karena posisi desanya berada di seberang Sungai Kahayan.

” Jalan tembus satu-satunya pak, untuk menuju jalan raya, ya mengunakan kapal fery, baik mengangkut orang atau pun barang, maupun sepeda motor,” ujar Ager menjelaskan.

Keberadaan kapal Fery penyebrangan sepeda motor dan orang ini, sangat dibutuhkan bagi warga desa simpur, dan jumlah Fery penyeberangan hingga sekarang berjumlah dua kapal, yang satu punya desa yang dikelola BUMDesa dan satu kapal lagi milik masyarakat sendiri.

Untuk operasional Fery, kata Ager, pihaknya mengatur waktu yakni 1 (satu) minggu dan ganti 1 minggu lagi, agar tidak ada kecemburuan antar pemilik usaha. “Kami jelaskan, untuk anak sekolah SMA, dan SMP, kami gratiskan mengunajan jasa fery, karena pihak Desa sudah menangung biaya tersebut yang digunakan setiap hari,” bebernya.

Ia selaku Kepala Desa setempat mengharapkan kepada Pemerintah untuk bisa membantu pelabuhan fery atau dermaga fery untuk penyeberangan baik untuk barang dan warga. ” Kami yang menggunakan jasa penyeberangan dan terkait keselamatan penumpang, agar pihak terkait bisa menyediakan pelampung pengamanan, hal ini demi keselamatan penguna fery ini,” harap Ager.

Ager mengakui, aktivitas masyarakat dan mobilitas dari dan menuju desa simpur semakin hari semakin bertambah peminatnya, karena kata Ager, warga simpur sudah cukup banyak yang memiliki kendaraan roda dua. (RP/01)