Indonesia Bersama Amerika Latin dan Karibia Tingkatkan Hubungan Dagang

oleh
Ilustrasi Gambar

Jakarta, Borneo24.com – Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengajak para pelaku bisnis Indonesia dan negara-negara di Kawasan Amerika Latin dan Karibia (Amlatkar) untuk bekerja sama menggali potensi bisnis untuk meningkatkan perdagangan dengan Kawasan tersebut. Hal ini penting dilakukan, khususnya di tengah perlambatan ekonomi global akibat pandemi Covid-19.

Ajakan tersebut disampaikan Mendag pada Indonesia-Latin America and Carribean Business Forum (Forum Bisnis INA-LAC) yang berlangsung hari ini, Senin, (9/11) secara virtual. Forum Bisnis INA-LAC diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri dengan tema “Smart Partnership: Refocusing Indonesia-Latin America and the Carribean Economic Relations in the Time of Pandemic”. Kegiatan ini berlangsung secara virtual pada 9—11 November 2020. Turut hadir dalam forum bisnis ini yaitu Menteri Luar Negeri Republik Chile, Andres Allamand Zavala; Menteri Luar Negeri Republik Oriental Uruguay, Francisco Bustillo Bonasso; Menteri Luar Negeri RI, Retno LP Marsudi; Menteri Agama RI, Fachrul Razi; Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo; Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri, Ngurah Swajaya; Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Kasan; pelaku bisnis; pejabat pemerintah; serta pemangku kepentingan terkait di Indonesia dan negara-negara Amlatkar.

“Kita harus dapat mengubah momentum krisis akibat pandemi ini menjadi kesempatan dalam meningkatkan kinerja perdagangan. Forum bisnis ini menjadi jembatan menuju kerja sama besar antara Indonesia dengan 33 negara di Kawasan Amlatkar agar tumbuh menjadi Kawasan yang saling menguntungkan dan menguatkan,” ujar Mendag.

Menurut Mendag, Amlatkar merupakan kawasan yang menjanjikan dalam melakukan kerja sama dagang. Berdasarkan data yang diolah Kemendag, pada 2019 Kawasan Amlatkar menawarkan potensi ekspor sebesar USD 944,5 miliar. Namun, ekspor Indonesia ke Kawasan tersebut baru mencapai USD 3,8 miliar. Sementara pada periode Januari–Agustus 2020, Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan dengan Kawasan Amlatkar sebesar USD 1,6 miliar, dengan pangsa pasar hanya sebesar 0,42 persen dari total impor kawasan ini dari dunia. Ini menempatkan Indonesia di bawah Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Singapura.

Komoditas ekspor utama Indonesia ke Kawasan Amlatkar, yaitu kendaraan dan komponennya, lemak dan minyak nabati karet dan barang dari karet, alas kaki, dan kertas dan produk dari kertas. Adapun lima negara tujuan ekspor utama Indonesia di kawasan Amlatkar adalah Meksiko, Brasil, Peru, Argentina, dan Haiti. Untuk itu, Mendag meyakini, Forum Bisnis INA-LAC sangat penting dilakukan sebagai salah satu upaya meningkatkan hubungan perdagangan antara Indonesia dan negara-negara di Kawasan Amlatkar.

“Forum Bisnis INA-LAC ini akan menjadi salah satu langkah yang diperlukan untuk memajukan Indonesia dan kawasan Amlatkar. Era digitalisasi menjadi solusi yang dapat mendekatkan jarak geografis antara kedua wilayah,” ujar Mendag. Mendag juga menyampaikan, untuk meningkatkan akses pasar produk Indonesia di kawasan Amlatkar, saat ini Indonesia sedang menjajaki perjanjian perdagangan dengan beberapa mitra, termasuk MERCOSUR, Peru, Ekuador, dan Kolombia. Nantinya, bersama implementasi perjanjian IC-CEPA sejak 2019, perjanjian perdagangan yang baru akan memfasilitasi kinerja ekspor Indonesia di pasar Amlatkar.

“Tidak lupa pula, melalui forum ini, saya ingin mengajak para pelaku usaha untuk merealisasikan potensi bisnis menjadi bisnis yang saling menguntungkan dan berkelanjutan, serta memanfaatkan akses pasar yang sudah kita miliki di kawasan Amlatkar yakni IC-CEPA,” imbau Mendag. Pada forum bisnis tersebut, Mendag mengundang seluruh peserta untuk hadir meramaikan dan menggali potensi kerja sama dagang yang menguntungkan dengan pelaku ekspor Indonesia melalui Trade Expo Indonesia Virtual Exhibition (TEI-VE) yang diselenggarakan pada 10—16 November 2020. “TEI-VE merupakan salah satu terobosan Kementerian Perdagangan untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional. Di tengah pandemi Covid-19, Kementerian Perdagangan perlu mengambil langkah-langkah yang tidak biasa. Kegiatan ini juga membutuhkan akselerasi, inovasi, dan kolaborasi untuk bertahan dalam situasi yang sulit ini,” pungkas Mendag. (***)

No More Posts Available.

No more pages to load.