Ini 3 Tokoh Pendidikan Indonesia dan Pemikirannya yang Mencerdaskan Bangsa

oleh
Mengenal 3 Tokoh Pendidikan Indonesia dan Pemikirannya yang Mencerdaskan Bangsa.

Jakarta, Borneo24.com Meski masih banyak hal yang perlu diperbaiki, namun sistem pendidikan Indonesia lebih baik dari sebelumnya. Hal ini tidak lepas dari peran tokoh pendidikan Indonesia di masa lalu.

Tokoh pendidikan Indonesia ini punya ide dan gagasan penting agar masyarakat lebih berkualitas lewat pendidikan. Perjuangan tokoh yang juga pahlawan Indonesia ini sudah dimulai sejak sebelum kemerdekaan NKRI.

Berikut ini tiga tokoh pendidikan Indonesia, lengkap dengan ide dan gagasannya, mengutip Ruang Guru, Selasa (3/5/2022).

1. K.H Agus Salim

Agus Salim adalah salah satu perumus lima sila dalam Pancasila, yang jadi pegangan bangsa Indonesia.

Ia adalah tokoh nasional yang memiliki latar belakang pendidikan yang baik. Pendidikan dasarnya ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS). ELS adalah sekolah khusus anak-anak Eropa.

Agus Salim melanjutkan pendidikannya ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Karena kecerdasannya, Agus Salim berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda pada tahun 1903.

Sayang prestasinya sebagai lulusan terbaik HBS, tidak bisa membuatnya melanjutkan studi ke luar negeri, karena tidak berdarah Eropa murni.

Di rumah ia mendidik secara langsung anak-anaknya, ia menerapkan pola belajar yang asik dan menyenangkan namun tetap mendidik.

Ada beberapa metode yang dilakukan Agus Salim untuk mengasah kemampuan membaca, menulis, dan juga berhitung, metode yang diterapkan dengan cara-cara yang santai seolah sedang bermain.

2. HJ Rangkayo Rasuna Said

Lahir 14 September 1910, di Maninjau, Sumatera Barat, Rasuna Said tumbuh jadi sosok cerdas, pemikiran luas, dan pendirian tangguh.

Tokoh perempuan ini punya peran penting saat perjuangan kemerdekaan, terutama di bidang pendidikan dan politik.

Dalam perjuangannya Rasuna Said mendirikan sekolah Thawalib, yang mengajar sebagai seorang perempuan yang memperjuangkan hak pendidikan perempuan.

Bersama dengan Soemantra Thawalib ia melahirkan PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia), yang diantaranya ada sekolah kursus putri dan sekolah normal khusus, serta Rasuna Said jadi pemimpin sekolah-sekolah tersebut.

Rasuna yang memperjuangan hak pendidikan perempuan itu, pernah dipenjara oleh pemerintah kolonial Belanda karena pidatonya.

Sekedar informasi, Rasuna adalah perempuan Indonesia pertama yang dibui karena tuduhan ujaran kebencian. Ia dipenjara selama 1 tahun 2 bulan.

Rasuna Said punya pemikiran, bahwa perempuan harus ikut andil memikirkan gagasan kebangsaan, serta ikut andil dalam perjuangan kemerdekaan.

Menurutnya, Indonesia tidak akan pernah bisa merdeka jika perempuannya masih terbelakang. Kaum perempuan Indonesia wajib berpikiran maju, seperti kaum lelaki.

3. Ki Hajar Dewantara
Tokoh yang tidak asing dan dikenal sebagai bapak pendidikan Indonesia. Lahir 2 Mei 1889, keturunan bangsawan, sejak kecil sudah difokuskan untuk mengenyam pendidikan. Pertama kali ia bersekolah di Sekolah Dasar untuk anak-anak Eropa dan juga kaum bangsawan, yaitu ELS.

Selanjutnya melanjutkan pendidikan di STOVIA, sekolah pendidikan dokter pribumi pada masa kolonial Belanda, yang dikenal sebagai Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Sayang, ia tidak bisa menyelesaikan sekolah, karena sakit. Namun kemahirannya menulis, dan menuangkan sikap anti kolonial dalam tulisannya, ia pernah diasingkan ke Belanda karena tulisannya.

Setelah kembali pada September 1919, ia kembali melakukan perlawanannya melalui tulisan-tulisannya sampai orasinya, dan kembali dipenjara.

Tepat 3 Juli 1922, Ki Hajar mendirikan Lembaga Pendidikan Nasional Taman Siswa. Sekolah ini didirikan khusus bagi rakyat pribumi.

Ki Hajar sadar bahwa pendidikan adalah senjata yang paling tajam untuk melakukan perlawanan terhadap penjajahan.

Menurutnya, jika bangsa Indonesia cerdas maka tidak akan lagi mudah dibodohi oleh bangsa kolonial Belanda.

Taman Siswa ini benar-benar independen, Ki Hajar tidak sudi menerima subsidi dari pemerintah kolonial Belanda.

No More Posts Available.

No more pages to load.